Pelonggaran Kuantitatif: Pengertian, Cara Kerja, Dampak
JAKARTA, turkeconom.com – Pelonggaran kuantitatif adalah kebijakan moneter non-konvensional yang dijalankan oleh bank sentral. Tujuannya adalah menambah jumlah uang yang beredar di perekonomian. Bank sentral melakukannya dengan cara membeli aset keuangan dari bank komersial dan lembaga swasta lainnya.
Dalam bahasa Inggris, kebijakan ini dikenal sebagai quantitative easing atau disingkat QE. Pelonggaran kuantitatif diterapkan ketika kebijakan moneter biasa sudah tidak lagi efektif. Misalnya, ketika suku bunga acuan sudah mendekati nol dan tidak bisa diturunkan lebih jauh. Oleh sebab itu, bank sentral beralih ke pendekatan yang lebih langsung untuk menyuntik likuiditas ke sistem keuangan.
Kebijakan ini pertama kali diterapkan secara resmi oleh Bank of Japan pada tahun 2001. Selanjutnya, kebijakan serupa diadopsi oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan banyak negara lain setelah krisis keuangan global 2008. Bahkan Bank Indonesia pun pernah menerapkan pelonggaran kuantitatif selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020 hingga 2021.
Mengapa Pelonggaran Kuantitatif Diperlukan

Dalam kondisi normal, bank sentral mengendalikan ekonomi lewat suku bunga. Ketika ekonomi melambat, bank sentral menurunkan suku bunga agar pinjaman menjadi lebih murah. Selain itu, penurunan suku bunga mendorong masyarakat dan dunia usaha untuk lebih banyak berbelanja dan berinvestasi.
Namun demikian, ada batas seberapa rendah suku bunga bisa diturunkan. Ketika suku bunga sudah berada di level nol persen, bank sentral tidak punya ruang lagi untuk menurunkannya lebih jauh. Kondisi ini disebut sebagai zero lower bound. Dalam situasi seperti ini, pelonggaran kuantitatif menjadi alat cadangan yang penting.
Selain itu, pelonggaran kuantitatif juga digunakan untuk melawan ancaman deflasi. Deflasi adalah kondisi di mana harga barang dan jasa terus turun secara umum. Meskipun terdengar menguntungkan, deflasi justru berbahaya bagi ekonomi. Hasilnya, masyarakat menunda pembelian karena berharap harga akan turun lebih jauh. Hal ini memperlambat perputaran uang dan menekan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Kerja Pelonggaran Kuantitatif
Mekanisme pelonggaran kuantitatif berjalan melalui beberapa tahap yang saling terkait. Berikut adalah alur cara kerjanya secara umum:
- Pertama, bank sentral memutuskan untuk membeli aset keuangan jangka panjang. Aset yang dibeli biasanya berupa obligasi pemerintah atau surat utang dari lembaga swasta.
- Kedua, bank sentral membayar pembelian tersebut dengan menciptakan uang baru secara elektronik. Proses ini sering disebut sebagai “mencetak uang”, meskipun tidak selalu dalam bentuk uang fisik.
- Ketiga, dana baru tersebut masuk ke neraca bank komersial yang menjual asetnya ke bank sentral. Likuiditas bank komersial pun meningkat.
- Keempat, bank komersial yang kini memiliki lebih banyak dana diharapkan akan menyalurkannya sebagai kredit kepada masyarakat dan dunia usaha.
- Terakhir, meningkatnya kredit mendorong konsumsi dan investasi. Roda perekonomian berputar lebih cepat dan pertumbuhan ekonomi pun diharapkan pulih kembali.
Sejarah Penerapan Pelonggaran Kuantitatif di Dunia
Beberapa negara besar telah menerapkan pelonggaran kuantitatif dalam situasi darurat ekonomi. Pengalaman masing-masing negara memberikan pelajaran berharga tentang efektivitas dan risiko kebijakan ini.
Jepang adalah negara pertama yang menerapkan pelonggaran kuantitatif secara resmi. Bank of Japan mulai menjalankan kebijakan ini pada tahun 2001 untuk melawan deflasi yang sudah berlangsung lama. Selama periode 2001 hingga 2006, Bank of Japan menambah cadangan mata uang dari 5 triliun menjadi 25 triliun yen. Meskipun hasilnya tidak langsung terasa, kebijakan ini membantu menstabilkan sistem perbankan Jepang.
Amerika Serikat menerapkan pelonggaran kuantitatif sebanyak tiga tahap setelah krisis keuangan global 2008. Pada tahap pertama antara November 2008 hingga Maret 2010, The Fed mengucurkan dana besar-besaran. Total yang dikucurkan mencapai 1.650 miliar dolar untuk membeli surat berharga jangka panjang. Selanjutnya pada tahap kedua antara November 2010 hingga Juni 2011, The Fed kembali menggelontorkan 600 miliar dolar. Pada tahap ketiga di bulan September 2012, The Fed membeli surat utang senilai 85 miliar dolar per bulan. Pada tahun 2013, perekonomian Amerika Serikat mulai menunjukkan tren pemulihan yang lebih jelas.
Bank Sentral Eropa atau ECB menerapkan pelonggaran kuantitatif pada awal 2015 untuk mengatasi kelesuan ekonomi di kawasan Eropa. ECB mengucurkan dana besar-besaran setiap bulan untuk membeli obligasi pemerintah negara-negara anggota zona euro.
Pelonggaran Kuantitatif di Indonesia
Bank Indonesia juga pernah menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif, terutama selama masa pandemi Covid-19. Sejak Januari hingga Mei 2020, Bank Indonesia sudah meluncurkan pelonggaran kuantitatif senilai Rp503,8 triliun.
Dana tersebut berasal dari berbagai instrumen. Misalnya, pembelian Surat Berharga Negara dari pasar sekunder senilai Rp166,2 triliun dan term repo perbankan senilai Rp137,1 triliun. Selain itu, sumber lainnya berasal dari penurunan Giro Wajib Minimum. Selain itu, Bank Indonesia melanjutkan kebijakan ini hingga Agustus 2021. Tujuannya untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, khususnya bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kebijakan ini bertujuan menjaga agar likuiditas perbankan tetap memadai. Hasilnya, bank-bank komersial bisa terus menyalurkan kredit kepada pelaku usaha yang membutuhkan modal untuk bertahan selama pandemi.
Dampak Positif Pelonggaran Kuantitatif
Pelonggaran kuantitatif membawa sejumlah dampak positif bagi perekonomian ketika diterapkan dengan tepat.
- Pertama, meningkatnya likuiditas di sistem perbankan. Bank memiliki lebih banyak dana yang bisa disalurkan sebagai kredit kepada masyarakat dan dunia usaha.
- Kedua, turunnya suku bunga jangka panjang. Ketika bank sentral membeli obligasi dalam jumlah besar, harga obligasi naik dan imbal hasilnya turun. Hasilnya, biaya pinjaman menjadi lebih terjangkau.
- Ketiga, terdorongnya investasi dan konsumsi. Suku bunga rendah membuat pinjaman lebih murah sehingga mendorong lebih banyak kegiatan ekonomi.
- Keempat, stabilnya pasar keuangan. Kepastian bahwa bank sentral siap memberikan dukungan membantu menenangkan kepanikan di pasar keuangan.
- Terakhir, terlindunginya ekonomi dari ancaman deflasi. Menambah uang beredar secara terkontrol bisa mencegah spiral deflasi yang merusak.
Risiko dan Kritik terhadap Pelonggaran Kuantitatif
Meskipun bermanfaat, pelonggaran kuantitatif juga mengandung sejumlah risiko dan menuai kritik dari berbagai pihak.
Risiko terbesar adalah inflasi yang berlebihan. Ketika jumlah uang yang beredar bertambah terlalu banyak tanpa diimbangi pertumbuhan produksi, daya beli uang bisa turun tajam. Bahkan dalam skenario terburuk, ekonomi bisa mengalami stagflasi, yaitu kondisi di mana inflasi tinggi tetapi pertumbuhan ekonomi tetap lemah.
Selain itu, ada kritik bahwa pelonggaran kuantitatif justru memperbesar kesenjangan ekonomi. Kebijakan ini cenderung menguntungkan pemilik aset keuangan seperti saham dan properti. Mereka yang sudah kaya menjadi semakin kaya. Sementara itu, manfaatnya tidak selalu dirasakan langsung oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Ada pula risiko capital flight bagi negara berkembang. Ketika negara maju seperti Amerika Serikat menerapkan pelonggaran kuantitatif, arus modal bisa deras masuk ke negara berkembang. Hal ini terjadi karena negara berkembang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Ketika kebijakan itu dicabut, modal bisa mengalir keluar dengan cepat. Kondisi ini bisa mengguncang nilai tukar dan stabilitas ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kesimpulan
Pelonggaran kuantitatif adalah alat kebijakan moneter yang sangat kuat namun harus diterapkan dengan hati-hati. Kebijakan ini terbukti efektif dalam menstabilkan ekonomi di masa krisis, seperti yang terlihat dari pengalaman Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Namun demikian, pelonggaran kuantitatif bukan tanpa risiko.
Memahami pelonggaran kuantitatif penting bagi semua pihak, mulai dari pelaku usaha, investor, hingga masyarakat umum. Kebijakan ini memengaruhi suku bunga, nilai tukar, dan kondisi kredit yang berdampak langsung pada kehidupan ekonomi sehari-hari. Oleh sebab itu, pemantauan dan evaluasi yang cermat sangat diperlukan agar manfaatnya bisa dimaksimalkan dan risikonya bisa dikendalikan.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Ekonomi
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Moral Hazard: Pengertian, Penyebab, dan Contoh Nyata









