Velocity of Money

Velocity of Money: Pengertian, Rumus, dan Dampaknya

JAKARTA, turkeconom.com – Setiap lembar uang yang beredar punya kecepatan perputaran tersendiri. Kecepatan ini berpengaruh langsung pada kesehatan ekonomi suatu negara. Velocity of money adalah ukuran seberapa cepat uang berpindah tangan. Lebih tepatnya, konsep ini menghitung berapa kali satu unit uang dipakai untuk membeli barang dan jasa dalam waktu tertentu. Semakin cepat uang beredar, semakin tinggi pula kegiatan ekonomi yang terjadi.

Selain itu, konsep ini jadi salah satu alat ukur utama bagi para ahli ekonomi dan bank sentral. Ketika velocity of money tinggi, artinya masyarakat aktif belanja. Akibatnya, roda ekonomi berputar dengan cepat. Sebaliknya, ketika kecepatan peredaran uang turun, masyarakat cenderung menahan uangnya. Kondisi ini sering jadi tanda bahwa ekonomi sedang melambat.

Di Indonesia, pemahaman tentang velocity of money makin penting seiring perubahan ekonomi yang terus terjadi. Bank Indonesia rutin memantau angka ini untuk membuat kebijakan yang tepat. Misalnya, kebijakan soal jumlah uang beredar dan suku bunga acuan. Oleh karena itu, bagi masyarakat umum yang ingin paham soal ekonomi, mengenal konsep velocity of money jadi langkah awal yang sangat berguna.

Sejarah dan Asal Mula Teori Perputaran Uang

Velocity of Money

Gagasan tentang kecepatan peredaran uang sudah ada sejak lama. Velocity of money sudah dibahas oleh para pemikir ekonomi sejak ratusan tahun lalu. Selain itu, konsep ini terus berkembang seiring kemajuan ilmu ekonomi. Memahami akar sejarahnya membantu kita tahu mengapa konsep ini masih sangat penting sampai sekarang.

Pada abad ke-16, seorang pemikir Prancis bernama Jean Bodin mulai membahas hubungan antara jumlah uang dan tingkat harga. Namun, konsep velocity of money baru benar-benar tersusun rapi pada abad ke-20. Saat itu, Irving Fisher dari Amerika memperkenalkan rumus Equation of Exchange pada tahun 1911. Rumus ini menghubungkan jumlah uang beredar, kecepatan peredaran, tingkat harga, dan hasil ekonomi dalam satu kerangka. Dengan demikian, Fisher menjadi tokoh kunci dalam sejarah teori ini.

Setelah Fisher, Milton Friedman turut mengembangkan pemahaman tentang velocity of money. Friedman beranggapan bahwa kecepatan peredaran uang cenderung stabil dalam jangka panjang. Karena itu, perubahan jumlah uang beredar akan langsung mempengaruhi tingkat harga. Namun, data di era modern menunjukkan hal berbeda. Ternyata velocity of money jauh lebih berubah-ubah dari yang diprediksi Friedman. Maka dari itu, para ahli ekonomi terus memperbarui cara mereka membaca konsep ini.

Rumus dan Cara Menghitung Velocity of Money

Mengetahui cara menghitung velocity of money jadi kunci untuk membaca data ekonomi. Rumus yang dipakai cukup sederhana. Namun, makna di baliknya sangat dalam bagi pemahaman soal perputaran uang di suatu negara.

Berikut penjelasan rumus dan bagian-bagiannya:

  • Rumus dasarnya adalah V = PQ / M. Dalam hal ini, V adalah velocity of money, P adalah tingkat harga umum, Q adalah jumlah barang dan jasa, dan M adalah jumlah uang beredar.
  • Dalam praktiknya, PQ sering diganti dengan GDP nominal. Sebab, GDP nominal sudah mencerminkan total nilai barang dan jasa pada harga yang berlaku.
  • Oleh karena itu, rumus ringkasnya menjadi V = GDP Nominal / M. Huruf M bisa memakai ukuran M1 atau M2 tergantung kebutuhan.
  • M1 mencakup uang tunai dan simpanan giro. Artinya, M1 berisi uang yang bisa langsung dipakai untuk belanja.
  • Sementara itu, M2 mencakup seluruh bagian M1 ditambah deposito, tabungan, dan instrumen pasar uang lainnya.

Sebagai contoh, misalnya GDP nominal Indonesia dalam satu tahun mencapai 20.000 triliun Rupiah. Kemudian, jumlah uang beredar M2 sebesar 8.000 triliun Rupiah. Maka velocity of money adalah 20.000 dibagi 8.000, yaitu 2,5. Angka ini berarti setiap Rupiah rata-rata berpindah tangan 2,5 kali dalam setahun. Semakin tinggi angka velocity of money, semakin giat pula kegiatan ekonomi yang terjadi.

Faktor yang Mempengaruhi Velocity of Money

Velocity of money bukan angka tetap yang tidak pernah berubah. Sebaliknya, banyak hal yang membuat angka ini naik atau turun. Berbagai keadaan ekonomi, sosial, dan mental masyarakat turut berperan. Terlebih lagi, perubahan bisa sangat besar saat ekonomi sedang tidak pasti.

Berikut faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya velocity of money:

  1. Pertama, tingkat rasa percaya masyarakat pada kondisi ekonomi sangat berpengaruh. Ketika optimis, orang lebih berani belanja. Akibatnya, kecepatan peredaran uang naik.
  2. Kedua, tingkat suku bunga dari bank sentral juga punya peran besar. Suku bunga tinggi mendorong orang menabung. Sebaliknya, suku bunga rendah membuat orang lebih suka belanja.
  3. Ketiga, harapan akan naiknya harga barang bisa mempercepat peredaran uang. Sebab, masyarakat terdorong untuk segera belanja sebelum harga naik lebih tinggi.
  4. Selain itu, kemajuan alat bayar digital seperti e-wallet dan QRIS turut berpengaruh. Kemudahan bayar membuat uang berpindah tangan lebih cepat.
  5. Di samping itu, kondisi lapangan kerja juga punya dampak langsung. Pendapatan yang stabil membuat masyarakat lebih berani berbelanja.
  6. Lebih lanjut, kebijakan pemerintah seperti bantuan sosial dan potongan pajak juga berperan. Kebijakan ini menyuntikkan daya beli baru ke masyarakat.
  7. Terakhir, siklus bisnis turut membentuk pola. Velocity cenderung naik saat ekonomi tumbuh dan turun saat terjadi perlambatan.

Oleh karena itu, memahami faktor-faktor ini sangat penting bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan. Velocity of money yang berubah mendadak sering jadi tanda awal pergeseran besar dalam ekonomi.

Hubungan dengan Inflasi dan Kebijakan Moneter

Salah satu alasan utama mengapa velocity of money sangat diperhatikan adalah hubungannya dengan inflasi. Perubahan kecepatan peredaran uang bisa memperkuat atau justru meredam dampak kebijakan moneter. Karena itu, bank sentral harus selalu memperhatikan angka ini saat membuat keputusan.

Berikut hubungan antara velocity of money, inflasi, dan kebijakan moneter:

  • Ketika bank sentral menambah jumlah uang beredar namun velocity of money turun, inflasi bisa tidak terjadi. Sebab, uang baru tersebut tidak aktif beredar di masyarakat.
  • Sebaliknya, naiknya velocity of money bersamaan dengan penambahan uang beredar bisa memicu lonjakan harga. Akibatnya, inflasi naik dengan cepat.
  • Selain itu, Bank Indonesia memakai data velocity of money saat menetapkan suku bunga acuan BI Rate. Keputusan ini mempengaruhi biaya pinjaman di seluruh perbankan.
  • Lebih lanjut, turunnya velocity of money setelah krisis 2008 dan pandemi 2020 menjelaskan sebuah hal penting. Program cetak uang besar-besaran tidak langsung memicu lonjakan harga seperti yang ditakutkan banyak pihak.
  • Di samping itu, hubungan antara velocity dan inflasi tidak selalu lurus. Artinya, perubahan kecil pada kecepatan peredaran bisa menghasilkan dampak harga yang sangat besar.

Pengalaman Indonesia saat krisis 1998 menjadi contoh nyata. Pada masa itu, masyarakat panik dan menarik uang besar-besaran dari bank. Akibatnya, pola peredaran uang berubah sangat cepat. Kondisi ini memperburuk tekanan harga yang sudah sangat tinggi. Oleh karena itu, kebijakan moneter yang baik harus selalu melihat velocity of money, bukan hanya jumlah uang yang beredar.

Tren Perputaran Uang di Era Ekonomi Digital

Fenomena menarik terjadi di banyak negara maju selama dua puluh tahun terakhir. Velocity of money turun secara bertahap dan terus menerus. Tren ini memunculkan banyak pertanyaan besar di kalangan ahli ekonomi. Mereka ingin tahu apa yang berubah dalam cara masyarakat memakai uangnya.

Beberapa hal yang mendorong tren penurunan tersebut:

  • Pertama, kesenjangan pendapatan yang makin lebar membuat uang menumpuk di kalangan kaya. Kelompok ini cenderung menyimpan lebih banyak. Akibatnya, kecepatan peredaran uang secara keseluruhan menurun.
  • Kedua, banyak orang beralih dari belanja ke investasi saham dan obligasi. Dengan demikian, uang beredar di pasar modal tanpa langsung membantu jual beli barang dan jasa nyata.
  • Ketiga, penduduk di negara maju makin banyak yang berusia lanjut. Kelompok ini lebih banyak menabung daripada belanja.
  • Selain itu, ketidakpastian ekonomi yang berulang membuat masyarakat was-was. Karena itu, mereka menahan pengeluaran untuk berjaga-jaga.
  • Terakhir, suku bunga sangat rendah yang bertahan lama ternyata tidak mendorong belanja. Hal ini bertentangan dengan teori ekonomi pada umumnya.

Di Indonesia, tren velocity of money menunjukkan pola berbeda dari negara maju. Pertumbuhan kelas menengah yang pesat dan perpindahan ke kota-kota besar jadi penyeimbang. Selain itu, adopsi alat bayar digital terjadi sangat cepat di Indonesia. Platform seperti GoPay, OVO, Dana, dan ShopeePay sudah menjangkau pedagang kecil di pasar. Begitu juga, sistem QRIS turut mempercepat perpindahan uang dalam hitungan detik.

Dampak Velocity of Money bagi Pelaku Ekonomi

Velocity of money mungkin terdengar rumit dan hanya untuk kalangan ahli. Namun, dampaknya sangat terasa dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Perubahan kecepatan peredaran uang mempengaruhi harga barang, peluang kerja, dan prospek usaha di berbagai bidang.

Berikut dampak nyata yang bisa dirasakan oleh berbagai pihak:

  • Pertama, pelaku UMKM merasakan langsung perubahan velocity of money. Penjualan naik saat masyarakat aktif belanja. Sebaliknya, penjualan turun saat konsumen menahan uangnya.
  • Kedua, pekerja dan karyawan juga terkena dampaknya. Lapangan kerja bertambah saat uang beredar cepat. Namun, peluang kerja menyusut saat ekonomi melambat.
  • Ketiga, investor di pasar saham memperhatikan velocity of money sebagai petunjuk arah suku bunga. Sebab, kebijakan suku bunga langsung mempengaruhi harga saham dan obligasi.
  • Selain itu, peminjam kredit juga terdampak. Perubahan velocity bisa mengubah kebijakan suku bunga bank sentral. Akibatnya, besaran cicilan rumah dan kendaraan ikut berubah.
  • Lebih lanjut, pedagang menyesuaikan stok dan harga berdasarkan pola belanja masyarakat. Pola ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan peredaran uang di tingkat lokal.
  • Terakhir, pemerintah daerah merasakan dampak lewat penerimaan pajak. Pajak naik turun seiring perubahan kegiatan ekonomi yang tercermin dalam velocity of money.

Sebagai contoh, saat pencairan Tunjangan Hari Raya menjelang Lebaran, velocity of money naik tajam. Masyarakat aktif belanja kebutuhan hari raya dan melakukan perjalanan mudik. Akibatnya, pendapatan pelaku usaha di berbagai bidang melonjak dalam waktu singkat.

Panduan Membaca Angka untuk Keputusan Keuangan

Memahami velocity of money bukan hanya berguna untuk membaca kondisi ekonomi besar. Lebih dari itu, konsep ini juga bisa membantu keputusan keuangan pribadi. Dengan membaca arah pergerakan angka ini, kita bisa bersiap menghadapi perubahan ekonomi.

Berikut panduan sederhana memanfaatkan data velocity of money:

  1. Pertama, pantau data kecepatan peredaran uang dari Bank Indonesia. Gunakan data ini bersama angka pertumbuhan GDP dan tingkat harga sebagai bahan banding.
  2. Kedua, perhatikan tren selama 2 hingga 4 kuartal. Jangan terpaku pada perubahan bulanan. Sebab, angka bulanan sering berubah karena pengaruh musiman.
  3. Ketiga, gabungkan data velocity of money dengan data belanja rumah tangga. Dengan demikian, kita bisa dapat gambaran lebih lengkap tentang kekuatan daya beli.
  4. Selain itu, gunakan penurunan velocity yang terus menerus sebagai tanda untuk menambah tabungan darurat. Sebab, kondisi ini sering terjadi sebelum ekonomi melambat.
  5. Lebih lanjut, manfaatkan kenaikan velocity sebagai momen untuk mengevaluasi potensi naiknya harga. Langkah ini penting agar nilai tabungan tidak tergerus.
  6. Terakhir, timbang dampak velocity of money terhadap bidang usaha atau saham yang dimiliki. Dengan begitu, keputusan investasi bisa lebih tepat waktu.

Pada dasarnya, velocity of money memang bukan satu-satunya angka yang perlu dipantau. Namun, memahami konsep ini memberi sudut pandang tambahan yang sangat berguna. Keputusan keuangan yang dilandasi pemahaman mendalam tentang peredaran uang cenderung lebih kuat menghadapi guncangan ekonomi.

Kesimpulan

Velocity of money adalah konsep ekonomi dasar yang menghubungkan jumlah uang beredar dengan kegiatan ekonomi nyata. Dari teori Irving Fisher hingga pengalaman di era modern, konsep ini terus terbukti penting. Bank sentral, ahli ekonomi, investor, dan masyarakat umum semuanya bisa mendapat manfaat dari pemahaman ini. Pada dasarnya, bukan hanya jumlah uang yang menentukan kesehatan ekonomi. Seberapa cepat uang itu bergerak juga sangat menentukan.

Bagi masyarakat Indonesia, velocity of money jadi pintu masuk yang berguna untuk memahami ekonomi lebih dalam. Konsep ini menjelaskan bagaimana kebijakan moneter, pola belanja, dan kondisi global saling terhubung. Meskipun terdengar rumit, velocity of money sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari harga bahan pokok di pasar hingga peluang kerja, semuanya terhubung dengan kecepatan peredaran uang. Oleh karena itu, memahami konsep ini membantu kita melihat ekonomi dengan cara yang lebih lengkap dan bermakna.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik:  Ekonomi

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Hiperinflasi Krisis Ekonomi Paling Mengerikan | DINGDONGTOGEL

Author