Sphere of Influence

Sphere of Influence Wilayah Pengaruh dalam Politik – dingdongtogel

JAKARTA, turkeconom.com – Dunia politik antar negara tidak pernah lepas dari perebutan kekuasaan dan pengaruh. Moreover, sphere of influence atau wilayah pengaruh menjadi salah satu gagasan paling penting dalam hubungan antar negara. Gagasan ini merujuk pada kawasan di mana sebuah negara kuat memiliki kendali yang lebih besar. Kendali itu bisa berupa kekuatan militer, uang, budaya, atau politik. Negara yang berada di dalam sphere of influence biasanya harus tunduk pada keinginan negara yang lebih kuat. Mereka kehilangan sebagian kebebasan dalam mengatur urusan luar negeri sendiri.

Gagasan sphere of influence sudah ada sejak zaman kuno. Furthermore, pada masa Romawi dan Kartago sudah terjadi perebutan pengaruh di Laut Tengah bagian barat. Namun istilah ini baru resmi masuk ke dalam kosa kata politik dunia pada tahun 1885. Saat itu Inggris dan Jerman membuat perjanjian soal pembagian wilayah pengaruh di Teluk Guinea Afrika. Sejak itu gagasan wilayah pengaruh ini menjadi alat penting bagi negara-negara besar. Also, konsep ini terus berubah bentuk seiring waktu. Dari masa jajahan Eropa di Afrika dan Asia hingga Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Therefore, memahami sphere of influence menjadi kunci untuk mengerti mengapa negara-negara besar bertindak seperti yang mereka lakukan di panggung dunia.

Pengertian dan Ciri Utama Sphere of Influence

Sphere of Influence

Sphere of influence adalah kawasan di mana sebuah negara kuat memiliki kendali yang menonjol atas negara-negara lain yang lebih lemah. Moreover, kendali ini bisa bersifat terbuka melalui perjanjian resmi. Bisa juga bersifat tidak resmi namun diakui oleh negara-negara lain. Para ahli politik menyebut dua ciri utama dari sphere of influence. Ciri pertama adalah upaya menyingkirkan pengaruh negara lain dari kawasan itu. Ciri kedua adalah pembatasan kebebasan negara yang berada di dalamnya.

Ada beberapa bentuk sphere of influence yang perlu dipahami dingdongtogel:

  • Pertama, pengaruh militer di mana negara kuat menempatkan pasukan atau pangkalan di negara lain. Keberadaan militer ini membuat negara kecil sulit bertindak sendiri. Furthermore, negara kuat bisa turun tangan langsung jika merasa kepentingannya terancam.
  • Kedua, pengaruh uang dan dagang di mana negara kuat menjadi mitra dagang utama. Negara kecil menjadi bergantung pada uang dan barang dari negara kuat. Ketergantungan ini membuat mereka sulit menolak keinginan negara besar.
  • Ketiga, pengaruh budaya di mana bahasa, cara hidup, dan nilai-nilai negara kuat menyebar luas. Also, kalangan atas di negara kecil sering belajar di sekolah negara kuat dan mengikuti kebiasaannya.
  • Keempat, pengaruh politik di mana negara kuat ikut menentukan siapa yang berkuasa di negara lain. Mereka mendukung pemimpin yang sejalan dengan kepentingannya.
  • Terakhir, wilayah pengaruh bisa bersifat bertahan yaitu menjaga agar musuh tidak masuk ke kawasan terdekat. Bisa juga bersifat menyerang yaitu memperluas kendali ke wilayah baru. Therefore, sphere of influence hadir dalam banyak bentuk dan menjadi bagian tak terpisahkan dari cara negara-negara besar bersaing di panggung dunia.

Sejarah Awal Sphere of Influence di Eropa dan Afrika

Gagasan sphere of influence dalam bentuk resmi pertama kali muncul pada akhir abad ke-19. Moreover, saat itu negara-negara Eropa sedang berlomba menjajah benua Afrika dan Asia. Persaingan antar negara penjajah sangat ketat dan bisa memicu perang. Untuk menghindari hal itu, mereka membuat perjanjian pembagian wilayah pengaruh.

Kanselir Jerman Otto von Bismarck mengadakan Sidang Berlin pada tahun 1884. Sidang ini mengumpulkan pemimpin dunia untuk membagi kendali atas Afrika. Furthermore, pada tahun 1885 Inggris dan Jerman menandatangani perjanjian pertama yang memakai istilah sphere of influence. Perjanjian itu membagi wilayah pengaruh mereka di Teluk Guinea. Setelah itu banyak perjanjian serupa bermunculan antar negara Eropa. Mereka sepakat bahwa masing-masing tidak akan ikut campur di kawasan pengaruh negara lain. Also, Prancis membangun pengaruhnya di Afrika Barat dan Afrika Utara. Inggris menguasai Afrika Timur dan Afrika Selatan. Belgia mendapat Kongo. Therefore, Sidang Berlin tahun 1884 menjadi titik awal resmi dari pembagian wilayah pengaruh yang membentuk peta dunia modern.

Sphere of Influence pada Masa Perang Dingin

Masa Perang Dingin menjadi puncak dari perebutan sphere of influence dalam sejarah dunia modern. Moreover, dua negara adikuasa yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet membagi dunia menjadi dua kubu besar. Masing-masing berusaha keras memperluas wilayah pengaruhnya dan mencegah pihak lawan masuk.

Uni Soviet membangun sphere of influence di Eropa Tengah dan Timur. Negara-negara seperti Polandia, Cekoslowakia, Hungaria, dan Jerman Timur masuk ke dalam kendalinya. Furthermore, mereka tergabung dalam Pakta Warsawa sebagai lawan dari NATO. Kuba, Vietnam Utara, Korea Utara, dan Laos juga masuk dalam lingkaran pengaruh Soviet. Di sisi lain Amerika Serikat membangun wilayah pengaruhnya di Eropa Barat, Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Also, Amerika membentuk NATO dan membuat perjanjian keamanan di berbagai kawasan.

Perebutan wilayah pengaruh pada masa ini melahirkan beberapa perang besar. Perang Korea pecah karena kedua kubu berebut pengaruh di Semenanjung Korea. Perang Vietnam juga berakar dari perebutan kendali di Asia Tenggara. Therefore, Perang Dingin menunjukkan betapa berbahayanya perebutan sphere of influence ketika dua kekuatan besar saling berhadapan.

Sphere of Influence Setelah Runtuhnya Uni Soviet

Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 mengubah peta sphere of influence secara besar-besaran. Moreover, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adikuasa yang tersisa. Wilayah pengaruh Soviet di Eropa Timur runtuh. Negara-negara bekas Soviet satu per satu bergerak menuju Barat.

Pada masa ini banyak yang mengira bahwa gagasan sphere of influence sudah usang. Furthermore, tatanan dunia bergerak menuju kerja sama dan perdagangan bebas. NATO meluas ke timur dan menerima negara-negara bekas Soviet. Namun Rusia di bawah pemimpinnya tidak rela kehilangan wilayah pengaruh lamanya. Pada tahun 2008 Rusia menyerang Georgia karena merasa NATO sudah terlalu dekat dengan wilayahnya. Also, pada tahun 2014 Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina. Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut tindakan Rusia sebagai cara berpikir lama tentang wilayah pengaruh. Ia mengatakan cara ini melanggar hukum antar negara dan mengancam kedamaian Eropa. Therefore, keruntuhan Uni Soviet tidak mengakhiri perebutan sphere of influence melainkan mengubah bentuk dan arenanya.

Sphere of Influence di Era Modern

Di era modern sphere of influence kembali menjadi bahan pembicaraan hangat seiring bangkitnya kekuatan baru di panggung dunia. Moreover, Tiongkok dan Rusia menjadi penantang utama bagi wilayah pengaruh Amerika. India, Jerman, dan Inggris juga mulai membangun pengaruhnya sendiri.

Tiongkok membangun pengaruh melalui Belt and Road Initiative atau BRI. Program ini menyalurkan uang dan membangun jalan serta pelabuhan di banyak negara. Furthermore, meskipun BRI bersifat dagang, banyak yang melihatnya sebagai upaya Tiongkok membangun sphere of influence baru. Negara-negara penerima bantuan menjadi bergantung pada Tiongkok. Hal ini melemahkan pengaruh Amerika dan sekutunya di kawasan tersebut. Also, Tiongkok juga membangun pangkalan militer di Laut Cina Selatan. Tindakan ini menunjukkan keinginan untuk menguasai wilayah sekitarnya.

Di sisi lain India berusaha menjaga pengaruhnya di Samudra Hindia dan kawasan Indo-Pasifik. Rusia terus berupaya mempertahankan pengaruhnya di negara-negara bekas Soviet. Therefore, era modern menunjukkan bahwa wilayah pengaruh bukan gagasan usang melainkan kenyataan politik yang terus hidup dan berubah bentuk seiring pergeseran kekuatan dunia.

Perdebatan Seputar Sphere of Influence

Gagasan sphere of influence selalu memancing perdebatan sengit di kalangan ahli dan pembuat aturan. Moreover, ada kubu yang melihatnya sebagai kenyataan yang harus diterima. Ada pula kubu yang menolak keras gagasan ini karena dianggap melanggar kedaulatan negara kecil.

Para pendukung gagasan ini berpendapat bahwa sphere of influence bisa membawa ketertiban. Negara kuat bertanggung jawab menjaga keamanan di kawasannya. Furthermore, negara kecil mendapat perlindungan meskipun harus menyerahkan sebagian kebebasannya. Hubungan ini bisa saling menguntungkan jika dijalankan dengan baik. Di sisi lain para penentang menolak keras gagasan ini. Mereka menyebut wilayah pengaruh sebagai bentuk penindasan terselubung. Also, kedaulatan negara kecil tidak boleh dibatasi oleh kepentingan negara besar. NATO pada tahun 1997 menyatakan bahwa tidak boleh ada wilayah pengaruh yang membatasi kedaulatan negara mana pun. Perdana Menteri Inggris Theresa May pada 2017 juga menegaskan hal serupa terkait tuntutan Rusia. Therefore, perdebatan tentang sphere of influence mencerminkan ketegangan abadi antara kenyataan kekuasaan dan cita-cita kesetaraan antar negara.

Dampak Sphere of Influence bagi Negara Kecil

Negara-negara kecil merasakan dampak sphere of influence secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Moreover, bagi banyak negara kecil, berada dalam wilayah pengaruh negara besar bukan pilihan melainkan nasib. Berikut dampak yang sering dirasakan:

  • Pertama, kebebasan dalam mengatur hubungan luar negeri menjadi terbatas. Negara kecil tidak bisa bebas memilih mitra dagang atau sekutu militer. Furthermore, mereka harus sejalan dengan keinginan negara pelindung.
  • Kedua, ketergantungan pada uang dan barang dari negara kuat semakin dalam. Hal ini membuat negara kecil rentan terhadap tekanan dari luar.
  • Ketiga, budaya dan bahasa negara kuat menyebar luas. Also, kalangan muda dan kalangan atas cenderung mengikuti cara hidup negara yang berkuasa.
  • Keempat, di sisi lain negara kecil juga mendapat perlindungan keamanan. Mereka tidak perlu takut diserang oleh negara lain selama berada di bawah payung negara kuat.
  • Terakhir, beberapa negara kecil berhasil memanfaatkan posisinya dengan cerdik. Mereka bermain di antara dua kekuatan besar untuk mendapatkan keuntungan dari kedua belah pihak. Therefore, dampak wilayah pengaruh bagi negara kecil bersifat ganda yaitu membatasi sekaligus melindungi tergantung pada bagaimana hubungan tersebut dijalankan.

Kesimpulan

Sphere of influence telah menjadi bagian dari dunia politik sejak zaman kuno dan terus hidup hingga hari ini. Moreover, dari pembagian Afrika pada Sidang Berlin 1884 hingga perebutan pengaruh antara Amerika, Rusia, dan Tiongkok di era modern, gagasan ini terus membentuk peta kekuasaan dunia. Perang Dingin menunjukkan bahaya perebutan wilayah pengaruh yang bisa memicu perang besar. Runtuhnya Uni Soviet tidak mengakhiri gagasan ini melainkan mengubah bentuknya. Di era sekarang, Belt and Road Initiative Tiongkok dan perluasan NATO menjadi contoh nyata bagaimana wilayah pengaruh tetap hidup. Therefore, memahami sphere of influence dengan baik menjadi penting bagi setiap warga yang ingin mengerti mengapa negara-negara besar bertindak seperti yang mereka lakukan di panggung dunia.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik:  Politik

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Left-Wing Populism Gerakan Politik Rakyat Melawan

Author