Left-Wing Populism Gerakan Politik Rakyat Melawan
JAKARTA, turkeconom.com – Ketimpangan ekonomi dan rasa kecewa terhadap kalangan berkuasa telah melahirkan berbagai gerakan politik di seluruh dunia. Moreover, left-wing populism atau populisme sayap kiri menjadi salah satu kekuatan politik yang terus tumbuh. Gerakan ini memadukan gagasan politik sayap kiri dengan cara bicara yang langsung menyentuh hati rakyat biasa. Inti dari left-wing populism adalah keyakinan bahwa rakyat kebanyakan tertindas oleh segelintir pihak yang berkuasa. Para pendukung gerakan ini menyuarakan keadilan sosial dan pemerataan kekayaan. Mereka juga melawan kuasa perusahaan besar serta lembaga uang.
Left-wing populism berbeda dari gerakan sayap kiri pada umumnya dalam hal cara bicara dan pendekatan. Furthermore, gerakan ini tidak selalu bergantung pada teori kelas atau ajaran yang rumit. Left-wing populism memakai bahasa sederhana yang bisa dipahami semua orang. However, meskipun sering dianggap remeh oleh kalangan mapan, gerakan ini telah melahirkan banyak pemimpin dan partai besar. Dari Amerika Latin hingga Eropa dan Asia, left-wing populism terus mengubah peta politik dunia. Therefore, memahami akar dan dampak left-wing populism menjadi penting bagi siapa saja yang peduli pada dunia politik masa kini.
Pengertian dan Ciri Utama Left-Wing Populism

Left-wing populism adalah paham politik yang memadukan gagasan sayap kiri dengan cara bicara populis. Moreover, para ahli politik menyebutnya sebagai gerakan yang menempatkan rakyat kebanyakan melawan kalangan berkuasa sebagai poros utama. Berbeda dari populisme sayap kanan yang melihat musuh dari sisi budaya atau suku bangsa, left-wing populism melihat masalah dari sudut pandang uang dan kekuasaan.
Beberapa ciri utama left-wing populism perlu dipahami dengan baik. Berikut ciri-ciri pentingnya:
- Pertama, penentangan terhadap kuasa perusahaan besar dan lembaga uang yang menguasai kekayaan secara tidak adil. Kalangan kaya raya dan perusahaan raksasa menjadi sasaran utama. Furthermore, left-wing populism menuntut campur tangan negara dalam urusan uang rakyat demi keadilan bagi semua.
- Kedua, perjuangan untuk keadilan sosial dan pembagian kekayaan yang merata. Gerakan ini menuntut akses yang setara terhadap layanan kesehatan, sekolah, rumah, dan kerja yang layak bagi semua warga.
- Ketiga, sikap menentang perang dan tindakan militer yang tidak disukai rakyat. Also, kritik terhadap pasar bebas dunia yang dianggap hanya menguntungkan segelintir pihak menjadi bagian penting dari gerakan ini.
- Keempat, dukungan terhadap hak-hak kelompok kecil dan keberagaman. Berbeda dari populisme sayap kanan yang cenderung menyisihkan kelompok tertentu, left-wing populism merangkul semua lapisan.
- Terakhir, penggunaan bahasa sederhana dan terus terang yang bisa dipahami rakyat biasa. Therefore, left-wing populism berhasil menarik dukungan luas karena mampu mengubah hal yang rumit menjadi cerita sederhana tentang ketidakadilan.
Sejarah Awal Left-Wing Populism di Amerika Serikat
Akar sejarah left-wing populism bisa dilacak hingga akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Moreover, pada dekade 1890-an muncul Partai Rakyat atau People’s Party. Partai ini tumbuh dari gerakan petani dan buruh yang kecewa terhadap kuasa perusahaan besar. Gabungan petani, buruh, dan kalangan menengah ini merasa dua partai besar sudah terlalu tunduk pada kepentingan perusahaan.
Partai Rakyat melawan kuasa bank-bank besar dan standar emas yang merugikan rakyat kecil. Furthermore, mereka menuntut campur tangan negara dalam urusan uang rakyat. Gerakan ini menjadi cikal bakal populisme sayap kiri modern di Amerika. Pada era Depresi Besar tahun 1930-an muncul Huey Long dari Louisiana. Ia menjadi salah satu tokoh populis sayap kiri modern pertama. Also, Long memperjuangkan pembagian kekayaan lewat program Share Our Wealth. Program ini mengusulkan batas kekayaan perorangan dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin. Therefore, Amerika Serikat memiliki sejarah panjang left-wing populism yang terus berlanjut hingga era modern.
Left-Wing Populism di Amerika Latin
Amerika Latin menjadi wilayah di mana left-wing populism memiliki akar yang sangat dalam. Moreover, gerakan ini berpengaruh kuat terhadap jalannya politik di banyak negara. Tradisi populisme sayap kiri di kawasan ini sudah dimulai sejak pertengahan abad ke-20. Saat itu muncul pemimpin-pemimpin karismatik yang mengubah wajah politik negaranya.
Juan Peron di Argentina dan Getulio Vargas di Brasil menjadi pelopor left-wing populism di Amerika Latin. Kedua tokoh ini berperan besar dalam menata serikat buruh. Mereka juga membawa kelompok masyarakat bawah masuk ke dalam dunia politik. Furthermore, pada awal abad ke-21 gelombang baru leftwing populism melanda kawasan ini. Hugo Chavez di Venezuela memimpin gerakan besar dan menyalurkan uang minyak negara ke program sosial untuk rakyat miskin.
Evo Morales di Bolivia menjadi presiden pertama dari kalangan warga asli. Morales gigih membela hak-hak penduduk yang selama ini tersisih. Also, para ahli menilai bahwa leftwing populism di Amerika Latin membuat dunia politik lebih terbuka. Kelompok yang dulu tidak punya tempat kini bisa ikut serta. Kaum yang lemah dan warga asli mendapat ruang yang lebih luas. Therefore, leftwing populism di Amerika Latin telah menjadi kekuatan besar dalam membuka jalan menuju kehidupan politik yang lebih adil.
Left-Wing Populism di Eropa Modern
Eropa menjadi saksi bangkitnya left-wing populism terutama setelah krisis uang dunia tahun 2008. Moreover, aturan hemat ketat yang berlaku di banyak negara Eropa memicu gelombang kemarahan rakyat. Partai-partai mapan dianggap gagal menjaga kepentingan rakyat biasa. Dari situlah partai-partai baru bermunculan dengan semangat leftwing populism.
Syriza di Yunani menjadi contoh paling jelas dari bangkitnya leftwing populism di Eropa. Partai ini berubah dari partai kecil menjadi pemenang pemilu tahun 2015. Janji utama mereka adalah melawan aturan hemat yang menyengsarakan rakyat. Furthermore, Podemos di Spanyol lahir dari aksi protes jalanan dan berhasil masuk ke dalam pemerintahan. Di Prancis muncul La France Insoumise yang dipimpin oleh Jean-Luc Melenchon. Partai ini memadukan suara rakyat lewat dunia maya dengan sosok pemimpin yang tegas.
Di Jerman Die Linke atau Partai Kiri mewakili suara leftwing populism di panggung politik. Also, di Belanda Partai Sosialis juga membawa semangat serupa. Para ahli mencatat bahwa jumlah partai populis sayap kiri di Eropa memang lebih sedikit dari sayap kanan. Namun keberadaan mereka tetap nyata dan tidak bisa dilupakan. Therefore, leftwing populism di Eropa terus mencari bentuk terbaiknya. Ada yang ingin menjadi kekuatan baru bagi sayap kiri. Ada pula yang ingin mengubah peta politik menjadi rakyat melawan kalangan berkuasa.
Perbedaan Left-Wing Populism dengan Populisme Sayap Kanan
Left-wing populism dan populisme sayap kanan sama-sama mengaku mewakili suara rakyat biasa. Moreover, namun beda mendasar di antara keduanya terletak pada cara melihat siapa rakyat dan siapa musuh. Memahami beda ini penting agar tidak mencampur kedua gerakan yang tujuannya sangat berlainan.
Leftwing populism melihat masalah dari sisi uang dan kekuasaan. Kalangan kaya raya dan perusahaan raksasa dianggap lawan rakyat pekerja. Musuh utamanya adalah tatanan uang yang tidak adil bukan kelompok orang tertentu. Furthermore, gerakan ini mendukung hak-hak kelompok kecil dan kesetaraan. Sebaliknya populisme sayap kanan melihat masalah dari sisi budaya, suku, atau agama. Kalangan berkuasa disebut sebagai kaum yang tidak punya akar. Also, populisme sayap kanan cenderung curiga terhadap pendatang dan kelompok budaya yang berbeda. Para ahli memakai istilah populisme yang merangkul untuk leftwing populism. Sementara untuk sayap kanan mereka memakai istilah populisme yang menyisihkan. Therefore, meskipun sama-sama bicara soal rakyat melawan kalangan atas, kedua gerakan ini punya arah yang sangat berbeda.
Tokoh Penting Left-Wing Populism di Era Modern
Left-wing populism di era modern diwakili oleh sejumlah tokoh yang berhasil mengubah peta politik. Moreover, setiap tokoh membawa gaya yang berbeda namun memiliki benang merah yang sama. Mereka menyuarakan hak rakyat biasa melawan kuasa kekayaan. Berikut tokoh-tokoh penting leftwing populism di era modern:
- Pertama, Bernie Sanders dari Amerika Serikat yang menyebut dirinya sosialis yang pro rakyat. Sanders memperjuangkan layanan kesehatan untuk semua dan sekolah tinggi gratis. Furthermore, kampanye presidennya pada 2016 dan 2020 berhasil menggeser arah pembicaraan politik Amerika.
- Kedua, Alexandria Ocasio-Cortez juga dari Amerika Serikat. Ia memenangkan pemilihan awal dengan mengalahkan petahana sepuluh periode. Kemenangannya disebut yang paling mengejutkan pada tahun 2018.
- Ketiga, Hugo Chavez dari Venezuela yang memimpin gerakan besar dan menyalurkan kekayaan minyak untuk program sosial. Also, Chavez membangun wadah bagi rakyat seperti Dewan Komunal dan Komite Tanah Kota.
- Keempat, Evo Morales dari Bolivia yang menjadi presiden pertama dari kalangan warga asli. Morales membela hak-hak penduduk asli yang lama tersisih dari kekuasaan.
- Terakhir, Lee Jae-myung dari Korea Selatan sebagai contoh populisme sayap kiri dari kubu liberal. Ia berhasil menarik dukungan kelas pekerja. Therefore, keberagaman tokoh leftwing populism menunjukkan bahwa gerakan ini bersifat mendunia dan tidak terbatas pada satu wilayah saja.
Pandangan Ahli dan Perdebatan Seputar Left-Wing Populism
Left-wing populism menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan ahli politik. Moreover, ada yang memandang gerakan ini sebagai kekuatan baik yang menghidupkan semangat rakyat. Ada pula yang melihatnya sebagai ancaman bagi tatanan politik yang sudah mapan.
Jan-Werner Mueller berpendapat bahwa banyak gerakan leftwing populism sebenarnya adalah upaya mencari bentuk baru yang cocok untuk abad ke-21. Furthermore, menurut Mueller gerakan ini justru menghormati tatanan yang majemuk. Mereka berhasil karena gagasan sayap kirinya bukan karena sifat populisnya. Sementara itu Chantal Mouffe menilai bahwa pertarungan utama politik masa depan ada di antara populisme sayap kanan dan leftwing populism. Also, Cas Mudde menyebut populisme sebagai paham yang melihat rakyat murni melawan kalangan berkuasa yang korup. Beberapa ahli lain mengingatkan bahwa leftwing populism bisa berujung pada kuasa yang terpusat pada satu tokoh. Hal ini bisa melemahkan lembaga yang menjaga jalannya negara. Therefore, perdebatan ini menunjukkan bahwa leftwing populism punya sisi baik dan buruk yang perlu ditimbang secara seimbang.
Kesimpulan
Left-wing populism telah menjadi kekuatan politik penting selama lebih dari satu abad. Moreover, dari Partai Rakyat di Amerika pada 1890-an hingga bangkitnya Syriza dan Podemos di Eropa, gerakan ini terus menemukan bentuk barunya. Inti perjuangannya tetap sama yaitu menyuarakan hak rakyat biasa melawan kuasa kekayaan. Di Amerika Latin gerakan ini membuka pintu bagi kelompok yang tersisih. Di Eropa dan Amerika Serikat ia menggeser arah pembicaraan politik menuju keadilan. Meskipun masih diperdebatkan soal dampaknya bagi tatanan negara, leftwing populism tetap menjadi gejala yang tidak bisa dilupakan. Therefore, setiap warga yang peduli terhadap masa depan perlu memahami gerakan ini secara mendalam dan seimbang.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Politik
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: State Terrorism: Terorisme Negara dalam Kajian Politik – SITUSTOTO










