Ideologi Nasionalisme: Akar, Dinamika, dan Relevansinya Modern
Jakarta, turkeconom.com – Ada satu kata yang kerap jadi bahan perbincangan hangat di ruang politik, akademik, hingga warung kopi: nasionalisme. Kata ini sering disebut, tetapi maknanya kerap dipahami secara berbeda oleh tiap generasi. Ada yang mengartikannya sebagai semangat cinta tanah air, ada pula yang menekankannya pada sikap melawan dominasi asing.
Sejarah menunjukkan, ideologi nasionalisme lahir dari pergulatan panjang bangsa-bangsa yang mencari jati diri. Nasionalisme bukan hanya soal simbol bendera atau lagu kebangsaan, tapi juga ide tentang siapa kita, ke mana arah bangsa ini bergerak, dan bagaimana menjaga kedaulatan di tengah arus global.
Dalam konteks Indonesia, nasionalisme bahkan menjadi bahan bakar utama lahirnya kemerdekaan. Slogan “Indonesia merdeka atau mati” bukan sekadar teriakan emosional, tapi wujud konkret dari ideologi yang menolak tunduk pada penjajahan.
Menariknya, nasionalisme juga bukan ide mati. Ia selalu berevolusi, mengikuti dinamika zaman. Jika dulu nasionalisme hadir dalam bentuk perjuangan fisik melawan kolonialisme, kini ia bisa tampil dalam wujud lain, misalnya menjaga kemandirian ekonomi, menguatkan budaya lokal, atau memperkuat posisi diplomasi internasional.
Sejarah Lahir dan Berkembangnya Ideologi Nasionalisme

a. Akar di Eropa
Secara historis, nasionalisme lahir di Eropa pada abad ke-18 hingga 19, seiring revolusi besar seperti Revolusi Prancis (1789). Revolusi ini memperkenalkan konsep kedaulatan rakyat, menggusur dominasi monarki absolut. Nasionalisme di Eropa menekankan gagasan bahwa bangsa adalah entitas politik yang sah, dengan hak menentukan nasib sendiri.
b. Nasionalisme dan Kolonialisme
Gelombang nasionalisme kemudian menyebar ke Asia dan Afrika pada abad ke-20, terutama di negara-negara jajahan. Indonesia, India, Vietnam, hingga Mesir adalah contoh nyata. Nasionalisme di dunia kolonial ini berfungsi sebagai senjata ideologis melawan penjajah.
c. Nasionalisme di Indonesia
Di Indonesia, nasionalisme tumbuh melalui organisasi modern seperti Budi Utomo (1908), Sarekat Islam, dan kemudian Sumpah Pemuda (1928). Momen ini menegaskan persatuan bangsa di atas identitas kedaerahan. Proklamasi 1945 adalah buah dari nasionalisme yang matang.
d. Nasionalisme Pasca-Kemerdekaan
Setelah merdeka, nasionalisme Indonesia tidak berhenti pada aspek politik. Ia berkembang menjadi strategi pembangunan, menjaga persatuan dalam keberagaman, dan menjadi tameng menghadapi intervensi asing.
Dimensi Ideologi Nasionalisme
Nasionalisme bukan ide yang statis, ia punya banyak dimensi yang memengaruhi kehidupan politik dan sosial.
a. Nasionalisme Politik
Menekankan kedaulatan negara, pengakuan identitas nasional, dan penentuan nasib sendiri. Di Indonesia, hal ini terlihat dalam UUD 1945 dan prinsip persatuan dalam Pancasila.
b. Nasionalisme Kultural
Menghidupkan kebanggaan terhadap bahasa, budaya, dan tradisi lokal. Misalnya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu atau pelestarian batik yang kini diakui dunia.
c. Nasionalisme Ekonomi
Memberi prioritas pada kemandirian ekonomi nasional. Kebijakan substitusi impor di masa Orde Baru atau gerakan “cintai produk lokal” adalah contohnya.
d. Nasionalisme Sosial
Berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan solidaritas sosial. Program-program redistribusi ekonomi atau pembangunan daerah terpinggirkan termasuk bagian dari dimensi ini.
e. Nasionalisme Modern
Di era globalisasi, nasionalisme bisa berarti kemampuan suatu negara untuk mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan global. Misalnya, kedaulatan digital, perlindungan sumber daya alam, dan diplomasi internasional yang kuat.
Nasionalisme di Era Globalisasi: Tantangan dan Peluang
Globalisasi membawa arus budaya, ekonomi, dan teknologi lintas batas. Di satu sisi, ia menawarkan peluang besar. Namun, di sisi lain, ia juga bisa mengikis identitas nasional jika tidak disikapi dengan bijak.
a. Tantangan yang Dihadapi
-
Kebudayaan Global: Gaya hidup ala barat sering dianggap menggeser nilai-nilai lokal.
-
Ekonomi Pasar Bebas: Produk asing membanjiri pasar, mengancam industri kecil nasional.
-
Informasi Digital: Narasi asing dengan mudah masuk melalui media sosial.
b. Peluang yang Bisa Dimanfaatkan
-
Promosi Budaya: Nasionalisme bisa tampil dalam bentuk soft power, misalnya lewat K-pop di Korea atau batik di Indonesia.
-
Ekonomi Kreatif: Generasi muda bisa menyalurkan semangat nasionalisme melalui karya digital, startup lokal, hingga produk UMKM.
-
Diplomasi Global: Nasionalisme juga bisa memperkuat posisi negara di meja perundingan internasional.
Dengan kata lain, nasionalisme tidak harus menolak globalisasi, melainkan bisa berjalan berdampingan: menjaga identitas, sekaligus terbuka pada inovasi.
Nasionalisme dalam Politik Indonesia Kontemporer
Nasionalisme di Indonesia kini hadir dalam berbagai bentuk wacana politik.
a. Simbol Politik
Banyak partai politik mengusung jargon nasionalisme. Mulai dari menekankan kemandirian ekonomi hingga penggunaan isu kedaulatan energi.
b. Kebijakan Negara
Pemerintah mendorong penggunaan produk lokal, penguatan ketahanan pangan, hingga program digitalisasi dengan cita rasa Indonesia. Semua ini bisa dibaca sebagai ekspresi nasionalisme di ranah kebijakan.
c. Generasi Muda dan Nasionalisme Baru
Generasi Z sering menunjukkan nasionalisme dalam bentuk berbeda. Alih-alih berbaris di upacara bendera, mereka lebih memilih menunjukkan cinta tanah air dengan cara mendukung konten lokal, mengembangkan inovasi, atau mengampanyekan isu lingkungan yang relevan dengan masa depan bangsa.
d. Nasionalisme dan Polarisasi Politik
Sayangnya, ide nasionalisme juga kerap dipolitisasi. Ada pihak yang menggunakannya untuk membangun sentimen “kami versus mereka”. Padahal, esensi nasionalisme adalah persatuan.
Relevansi Ideologi Nasionalisme di Masa Depan
Pertanyaan pentingnya: apakah nasionalisme masih relevan di masa depan? Jawabannya: sangat relevan. Namun, bentuknya akan terus berevolusi.
-
Nasionalisme Digital
Menjaga kedaulatan data dan teknologi dari dominasi perusahaan asing. -
Nasionalisme Hijau
Mengutamakan pembangunan berkelanjutan untuk generasi mendatang. -
Nasionalisme Inklusif
Menghargai keberagaman, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber konflik. -
Nasionalisme Global
Mampu bersaing secara sehat di dunia internasional, tanpa kehilangan identitas bangsa.
Penutup
Ideologi nasionalisme adalah fondasi yang terus hidup. Dari perjuangan kemerdekaan hingga era digital, ia selalu menemukan bentuknya sendiri. Bagi Indonesia, nasionalisme bukan sekadar simbol, melainkan ruh yang menyatukan keberagaman dan mengarahkan bangsa menuju masa depan.
Di tengah derasnya globalisasi, nasionalisme justru semakin dibutuhkan. Bukan untuk menutup diri, melainkan untuk berdiri tegak sebagai bangsa yang tahu siapa dirinya, mencintai budayanya, dan percaya diri menghadapi dunia.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Politik
Baca Juga Artikel Dari: Pertumbuhan Ekonomi Nasional: Dinamika, Tantangan & Harapan










