Current Account: Neraca Transaksi Berjalan dan Fungsinya
JAKARTA, turkeconom.com – Dalam dunia ekonomi makro, current account atau neraca transaksi berjalan menjadi salah satu tolak ukur paling penting untuk menilai kesehatan ekonomi suatu negara. Istilah ini sering muncul dalam pemberitaan ekonomi, laporan Bank Indonesia, hingga kajian akademis tentang kinerja perekonomian nasional.
Memahami current account bukan hanya penting bagi ekonom dan pelaku pasar keuangan, tetapi juga bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui kondisi ekonomi negaranya. Neraca ini mencerminkan hubungan ekonomi Indonesia dengan dunia luar, mulai dari aktivitas perdagangan hingga aliran pendapatan dari investasi asing.
Pengertian Current Account dalam Ekonomi

Current account atau neraca transaksi berjalan merupakan salah satu komponen utama dalam Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI. Neraca ini mencatat seluruh transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dengan penduduk negara lain yang melibatkan barang, jasa, pendapatan, dan transfer berjalan.
Menurut Bank Indonesia, transaksi berjalan mengukur penerimaan dan pengeluaran Indonesia yang berasal dari transaksi barang dan jasa, pendapatan, serta transfer berjalan dengan bukan penduduk. Definisi ini mencakup semua aktivitas ekonomi yang menghasilkan arus masuk atau keluar devisa negara.
Neraca transaksi berjalan (current account) dapat mencerminkan tingkat daya saing internasional suatu negara dalam mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Jika suatu negara mengalami surplus transaksi berjalan, berarti nilai ekspornya melampaui impor. Sebaliknya, ketika terjadi defisit, impor lebih besar dibandingkan ekspor.
Komponen Utama Current Account
Current account terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mencerminkan jenis transaksi berbeda antara penduduk dan bukan penduduk suatu negara.
Komponen current account:
- Neraca perdagangan barang yang mencatat ekspor dan impor barang
- Neraca jasa yang mencatat transaksi penyediaan jasa
- Neraca pendapatan primer yang mencatat hasil dari faktor produksi
- Neraca pendapatan sekunder yang mencatat transfer tanpa timbal balik
Setiap komponen memiliki peran dan kontribusi berbeda terhadap posisi current account secara keseluruhan. Pergerakan salah satu komponen bisa mempengaruhi posisi akhir neraca transaksi berjalan suatu negara.
Neraca Perdagangan Barang
Neraca perdagangan barang merupakan komponen terbesar dan paling berpengaruh dalam current account. Komponen ini mencatat seluruh transaksi ekspor dan impor barang antara Indonesia dengan negara lain.
Ekspor barang menghasilkan devisa bagi negara karena pembeli asing membayar dengan mata uang asing. Sebaliknya, impor barang menyebabkan keluarnya devisa karena Indonesia harus membayar barang dari luar negeri. Selisih antara ekspor dan impor barang disebut sebagai trade balance atau neraca perdagangan.
Indonesia memiliki komoditas ekspor unggulan seperti batubara, minyak kelapa sawit, karet, dan berbagai produk manufaktur. Di sisi lain, Indonesia mengimpor banyak barang modal, bahan baku industri, dan minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Neraca Jasa dalam Current Account
Neraca jasa mencatat transaksi penyediaan jasa antara penduduk Indonesia dengan penduduk negara lain. Komponen ini sering kali mencatat defisit karena Indonesia lebih banyak menggunakan jasa dari luar negeri dibandingkan menyediakan jasa ke luar.
Jenis jasa dalam neraca pembayaran:
- Jasa transportasi untuk pengiriman barang dan penumpang
- Jasa travel atau pariwisata
- Jasa komunikasi
- Jasa konstruksi
- Jasa asuransi
- Jasa keuangan
- Jasa komputer dan informasi
- Jasa bisnis lainnya
Sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang positif dalam neraca jasa. Ketika wisatawan asing berkunjung ke Indonesia dan membelanjakan uangnya, hal tersebut tercatat sebagai ekspor jasa yang menghasilkan devisa.
Neraca Pendapatan Primer
Neraca pendapatan primer mencatat hasil yang timbul dari penyediaan faktor produksi tenaga kerja dan modal finansial. Komponen ini terdiri dari kompensasi tenaga kerja dan pendapatan investasi.
Kompensasi tenaga kerja berasal dari pekerja musiman yang bekerja kurang dari satu tahun di luar negeri atau sebaliknya. Pendapatan investasi mencakup hasil dari investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.
Indonesia umumnya mencatat defisit pada neraca pendapatan primer karena pembayaran dividen dan bunga kepada investor asing lebih besar dibandingkan penerimaan dari investasi Indonesia di luar negeri. Hal ini mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara penerima investasi asing.
Neraca Pendapatan Sekunder
Neraca pendapatan sekunder mencatat transfer berjalan atau transaksi sepihak yang melibatkan penyerahan sumber daya tanpa timbal balik langsung. Contoh paling umum adalah hibah dan remitansi dari pekerja migran.
Remitansi dari Pekerja Migran Indonesia atau PMI di luar negeri menjadi kontributor positif dalam komponen ini. Jutaan TKI yang bekerja di berbagai negara secara rutin mengirimkan sebagian penghasilannya ke Indonesia, menghasilkan arus masuk devisa yang signifikan.
Hibah dari pemerintah asing atau organisasi internasional juga termasuk dalam kategori ini. Transfer ini tidak memerlukan pembayaran kembali dan dicatat sebagai penerimaan dalam neraca pendapatan sekunder.
Surplus dan Defisit Current Account
Posisi current account suatu negara bisa berada dalam kondisi surplus atau defisit tergantung pada perbandingan antara total penerimaan dan pengeluaran.
Surplus current account terjadi ketika total penerimaan dari ekspor barang dan jasa, pendapatan dari investasi di luar negeri, serta transfer masuk lebih besar dibandingkan total pengeluaran. Kondisi ini menunjukkan negara tersebut menghasilkan lebih banyak devisa dari transaksi internasional.
Sebaliknya, defisit current account atau CAD terjadi ketika pengeluaran lebih besar dari penerimaan. Defisit ini perlu dibiayai dari transaksi modal dan finansial atau menggunakan cadangan devisa negara.
Kondisi Current Account Indonesia Terkini
Indonesia mencatat defisit current account dalam beberapa tahun terakhir dengan nilai yang bervariasi setiap kuartal. Bank Indonesia secara rutin merilis data neraca pembayaran termasuk posisi current account.
Data current account Indonesia:
- Kuartal IV 2024 mencatat defisit 1,1 miliar USD atau 0,3 persen dari PDB
- Kuartal I 2025 mencatat defisit 0,17 miliar USD atau 0,1 persen dari PDB
- Kuartal II 2025 mencatat defisit 3,0 miliar USD atau 0,8 persen dari PDB
- Sepanjang 2024 defisit mencapai 8,68 miliar USD atau 0,6 persen dari PDB
Bank Indonesia memproyeksikan defisit current account tahun 2025 berada di kisaran 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB. Angka ini masih dalam kategori sehat dan terkendali menurut standar internasional.
Faktor yang Mempengaruhi Current Account
Berbagai faktor ekonomi dapat mempengaruhi posisi current account suatu negara, baik dari sisi domestik maupun global.
Faktor yang mempengaruhi current account:
- Harga komoditas ekspor utama di pasar internasional
- Nilai tukar mata uang terhadap dolar AS
- Pertumbuhan ekonomi domestik yang mempengaruhi permintaan impor
- Pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi permintaan ekspor
- Harga minyak dunia karena Indonesia adalah importir minyak bersih
- Kebijakan perdagangan internasional termasuk tarif dan hambatan dagang
- Tingkat inflasi domestik dibandingkan negara mitra dagang
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan dinamika yang terus berubah dalam posisi current account Indonesia dari waktu ke waktu.
Dampak Defisit Current Account
Defisit current account yang berkepanjangan dapat memberikan dampak terhadap perekonomian negara jika tidak dikelola dengan baik.
Dampak defisit current account:
- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah karena permintaan dolar AS meningkat
- Kebutuhan pembiayaan eksternal yang lebih besar
- Potensi peningkatan utang luar negeri
- Pengaruh terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia
- Dampak terhadap cadangan devisa negara
Namun defisit current account tidak selalu buruk jika digunakan untuk membiayai investasi produktif yang akan meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor di masa depan. Yang penting adalah defisit tersebut tetap terkendali dalam batas yang sehat.
Hubungan Current Account dengan Nilai Tukar
Current account memiliki hubungan erat dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS.
Ketika Indonesia mengalami defisit current account, permintaan terhadap dolar AS untuk membayar impor dan kewajiban luar negeri meningkat. Hal ini dapat menekan nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh aliran modal masuk yang memadai.
Sebaliknya, surplus current account cenderung memperkuat nilai tukar karena penerimaan devisa dari ekspor lebih besar. Namun hubungan ini tidak selalu linear karena dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti sentimen pasar dan kebijakan moneter.
Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Current Account
Bank Indonesia memiliki peran penting dalam memantau dan menjaga stabilitas current account sebagai bagian dari mandat menjaga stabilitas nilai rupiah dan sistem keuangan.
Langkah Bank Indonesia:
- Memantau perkembangan neraca pembayaran secara berkala
- Menyesuaikan kebijakan suku bunga untuk menjaga daya tarik investasi
- Melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan
- Berkoordinasi dengan pemerintah dalam kebijakan perdagangan
- Menjaga cadangan devisa pada level yang memadai
Bank Indonesia memproyeksikan NPI 2025 tetap sehat dengan defisit current account terkendali dan didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang berkelanjutan.
Perbandingan Current Account Indonesia dengan Negara Lain
Posisi current account Indonesia relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya namun masih di bawah negara-negara dengan surplus besar.
Negara seperti Jerman, Jepang, dan China secara konsisten mencatat surplus current account yang besar karena kekuatan sektor ekspornya. Sementara negara seperti AS, Inggris, dan India mencatat defisit current account yang cukup signifikan.
Indonesia berada di posisi moderat dengan defisit yang relatif kecil sebagai persentase dari PDB. Kondisi ini menunjukkan ekonomi yang cukup seimbang antara permintaan domestik dan eksternal.
Strategi Memperbaiki Current Account
Berbagai strategi dapat diterapkan untuk memperbaiki posisi current account dan mengurangi defisit jika diperlukan.
Strategi perbaikan current account:
- Meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia
- Melakukan hilirisasi industri untuk mengurangi ekspor bahan mentah
- Mengembangkan sektor pariwisata untuk meningkatkan penerimaan jasa
- Mengurangi ketergantungan impor melalui substitusi produk dalam negeri
- Meningkatkan efisiensi penggunaan energi untuk mengurangi impor minyak
- Mendorong investasi yang berorientasi ekspor
Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menerapkan berbagai kebijakan untuk menjaga current account dalam kondisi yang sehat dan berkelanjutan.
Pentingnya Memahami Current Account
Bagi masyarakat umum, memahami current account membantu dalam memahami kondisi ekonomi nasional dan implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari.
Defisit current account yang besar dapat menyebabkan pelemahan rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang impor. Sebaliknya, perbaikan current account dapat memperkuat rupiah dan menjaga stabilitas harga.
Investor juga menggunakan data current account sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi. Negara dengan current account yang sehat cenderung lebih menarik bagi investor karena menunjukkan fundamental ekonomi yang kuat.
Kesimpulan
Current account atau neraca transaksi berjalan merupakan bagian vital dari Neraca Pembayaran Indonesia yang mencerminkan hubungan ekonomi negara dengan dunia internasional. Pemahaman tentang komponen dan dinamika current account penting untuk menilai kesehatan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Indonesia saat ini mencatat defisit current account yang masih dalam batas wajar dan terkendali menurut proyeksi Bank Indonesia. Defisit ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan impor yang meningkat, namun tetap diimbangi oleh surplus perdagangan nonmigas yang solid.
Ke depan, upaya untuk memperbaiki current account akan terus dilakukan melalui berbagai kebijakan yang mendukung ekspor dan mengurangi ketergantungan impor. Dengan pengelolaan yang baik, Indonesia dapat menjaga stabilitas eksternal yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Ekonomi
Baca juga artikel lainnya: Devaluasi Kompetitif: Strategi Ekonomi Perang Mata Uang










