Biaya Overhead

Biaya Overhead dalam Ekonomi Bisnis dan Cara Menghitungnya

JAKARTA, turkeconom.com – Setiap pelaku usaha pasti mengeluarkan berbagai jenis biaya untuk menjalankan operasional bisnisnya. Selain biaya produksi langsung seperti bahan baku dan upah tenaga kerja, terdapat komponen pengeluaran lain yang tidak kalah penting untuk diperhitungkan. Biaya Overhead merupakan salah satu elemen fundamental dalam struktur keuangan perusahaan yang sering kali luput dari perhatian, padahal memiliki dampak signifikan terhadap profitabilitas dan keberlangsungan usaha.

Dalam ilmu ekonomi dan akuntansi, pemahaman mendalam tentang Biaya Overhead menjadi kunci untuk mengelola keuangan bisnis secara efektif. Perusahaan yang mampu mengidentifikasi, menghitung, dan mengendalikan overhead cost dengan baik akan memiliki keunggulan kompetitif dalam menetapkan harga jual yang tepat sekaligus mempertahankan margin keuntungan yang sehat. Oleh karena itu, setiap pengusaha dan praktisi keuangan perlu memahami konsep ini secara komprehensif.

Pengertian Biaya Overhead dalam Perspektif Ekonomi

Biaya Overhead

Biaya Overhead adalah pengeluaran yang tidak berkaitan langsung dengan proses produksi barang atau penyediaan jasa, namun tetap diperlukan untuk menunjang kelangsungan operasional bisnis. Dalam terminologi akuntansi, overhead cost sering disebut sebagai biaya tidak langsung atau indirect cost karena sifatnya yang tidak dapat ditelusuri secara spesifik ke unit produk tertentu.

Secara konseptual, Biaya Overhead mencakup semua pengeluaran yang harus dibayar perusahaan terlepas dari apakah terjadi aktivitas produksi atau tidak. Sebagai ilustrasi, biaya sewa gedung tetap harus dibayarkan setiap bulan meskipun pabrik sedang tidak beroperasi. Karakteristik inilah yang membedakan overhead cost dari biaya langsung seperti bahan baku yang hanya dikeluarkan ketika produksi berlangsung.

Komponen yang termasuk dalam Biaya Overhead meliputi:

  • Biaya sewa atau hipotek untuk gedung, kantor, dan gudang
  • Gaji karyawan non-produksi seperti staf administrasi dan manajer
  • Tagihan utilitas berupa listrik, air, telepon, dan internet
  • Premi asuransi untuk aset dan karyawan
  • Pajak properti dan pajak usaha
  • Biaya depresiasi atau penyusutan aset tetap
  • Perlengkapan kantor dan alat tulis
  • Biaya pemeliharaan dan perbaikan fasilitas
  • Biaya jasa profesional seperti konsultan hukum dan akuntan

Pemahaman yang tepat tentang Biaya Overhead sangat penting dalam analisis ekonomi mikro karena mempengaruhi struktur biaya total, titik impas atau break-even point, serta keputusan penetapan harga produk.

Fungsi dan Peran Biaya Overhead dalam Manajemen Keuangan

Pencatatan dan pengelolaan Biaya Overhead memiliki fungsi strategis dalam manajemen keuangan perusahaan. Keberadaan data overhead yang akurat memungkinkan pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat sasaran.

Fungsi utama perhitungan Biaya Overhead bagi perusahaan:

  1. Penentuan Harga Pokok Produksi memerlukan alokasi overhead ke setiap unit produk agar harga jual dapat ditetapkan secara kompetitif sekaligus menguntungkan
  2. Penyusunan Anggaran menjadi lebih akurat ketika seluruh komponen biaya termasuk overhead telah teridentifikasi dengan jelas
  3. Analisis Profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan pendapatan terhadap total biaya yang mencakup overhead
  4. Pengawasan Efisiensi memungkinkan manajemen mengidentifikasi area pemborosan dan peluang penghematan
  5. Perencanaan Ekspansi mempertimbangkan proyeksi overhead untuk menghitung kebutuhan modal dan kelayakan investasi

Dalam konteks ekonomi makro, agregat Biaya Overhead dari seluruh pelaku usaha turut mempengaruhi tingkat harga umum di pasar. Perusahaan dengan overhead yang tinggi cenderung menetapkan harga jual lebih mahal, yang pada gilirannya dapat berdampak pada inflasi sektor tertentu.

Klasifikasi Jenis Biaya Overhead Berdasarkan Perilakunya

Biaya Overhead dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama berdasarkan perilakunya terhadap perubahan volume aktivitas bisnis. Pemahaman tentang klasifikasi ini penting untuk melakukan proyeksi dan pengendalian biaya yang efektif.

Biaya Overhead Tetap (Fixed Overhead) merupakan pengeluaran yang jumlahnya tidak berubah dalam jangka waktu tertentu, terlepas dari fluktuasi volume produksi atau penjualan. Karakteristik utamanya adalah kewajiban pembayaran yang konstan setiap periode.

Contoh Biaya Overhead Tetap:

  • Biaya sewa gedung atau kantor dengan kontrak jangka panjang
  • Gaji bulanan karyawan tetap di bagian administrasi
  • Premi asuransi tahunan untuk aset dan karyawan
  • Biaya depresiasi aset tetap menggunakan metode garis lurus
  • Pajak bumi dan bangunan yang dibayarkan tahunan
  • Biaya lisensi software dan keanggotaan profesional

Biaya Overhead Variabel (Variable Overhead) adalah pengeluaran yang berfluktuasi mengikuti intensitas aktivitas bisnis. Ketika produksi meningkat, overhead variabel akan naik, dan sebaliknya akan menurun saat aktivitas melambat.

Contoh Biaya Overhead Variabel:

  • Biaya lembur karyawan produksi saat pesanan meningkat
  • Perlengkapan kantor yang pemakaiannya bergantung pada aktivitas
  • Biaya pengiriman dan distribusi produk
  • Komisi penjualan dan bonus kinerja
  • Biaya pemeliharaan mesin yang bergantung pada jam operasional
  • Biaya bahan bakar untuk kendaraan operasional

Biaya Overhead Semi Variabel (Mixed Overhead) menggabungkan karakteristik tetap dan variabel dalam satu komponen biaya. Terdapat porsi minimum yang harus dibayarkan, ditambah komponen variabel berdasarkan penggunaan.

Contoh Biaya Overhead Semi Variabel:

  • Tagihan listrik dengan biaya abonemen tetap plus pemakaian
  • Tagihan telepon dan internet dengan paket dasar plus kelebihan kuota
  • Biaya kendaraan operasional dengan sewa tetap plus bensin
  • Gaji karyawan dengan komponen tetap plus insentif variabel

Metode Perhitungan dan Rumus Biaya Overhead

Menghitung Biaya Overhead memerlukan pendekatan sistematis agar hasilnya dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Beberapa metode dan rumus berikut umum digunakan dalam praktik akuntansi biaya.

Rumus Dasar BiayaOverhead Total:

BiayaOverhead = Biaya Tidak Langsung Material + Biaya Tidak Langsung Tenaga Kerja + Biaya Tidak Langsung Lainnya

Rumus Persentase Overhead terhadap Penjualan:

Overhead Ratio = (Total BiayaOverhead / Total Penjualan) x 100%

Rasio ini menunjukkan proporsi pendapatan yang terserap untuk menutup biaya tidak langsung. Semakin rendah persentasenya, semakin efisien pengelolaan overhead perusahaan.

Rumus Overhead terhadap Biaya Tenaga Kerja:

Overhead Rate = (Total BiayaOverhead / Total Biaya Tenaga Kerja) x 100%

Perbandingan ini berguna untuk menilai efisiensi penggunaan sumber daya manusia relatif terhadap beban overhead yang ditanggung.

Rumus BiayaOverhead per Unit Produk:

Overhead per Unit = Total Biaya Overhead / Jumlah Unit Diproduksi

Perhitungan ini esensial untuk menentukan harga pokok produksi per unit yang mencakup alokasi overhead.

Standar persentase BiayaOverhead yang dianggap sehat bervariasi menurut industri. Bisnis retail umumnya menargetkan rasio 15 hingga 30 persen dari pendapatan, manufaktur sekitar 20 hingga 35 persen, sedangkan bisnis jasa berada di kisaran 10 hingga 25 persen.

Langkah Sistematis Menghitung Biaya Overhead Perusahaan

Proses perhitungan Biaya Overhead yang akurat memerlukan tahapan metodis agar tidak ada komponen yang terlewat atau terhitung ganda.

Tahapan menghitung BiayaOverhead:

  1. Identifikasi Seluruh Pengeluaran dengan mengumpulkan data dari catatan keuangan, faktur, dan bukti pembayaran selama periode yang akan dihitung
  2. Pisahkan Biaya Langsung dan Tidak Langsung dengan kriteria apakah pengeluaran tersebut dapat ditelusuri langsung ke unit produk atau tidak
  3. Kategorikan Overhead ke dalam kelompok tetap, variabel, dan semi variabel untuk memudahkan analisis perilaku biaya
  4. Jumlahkan Total Overhead dari seluruh kategori untuk mendapatkan angka agregat
  5. Hitung Rasio Overhead dengan membandingkan terhadap penjualan, biaya tenaga kerja, atau basis alokasi lainnya
  6. Alokasikan ke Produk menggunakan metode yang sesuai seperti berdasarkan jam kerja langsung, jam mesin, atau luas area

Contoh perhitungan sederhana:

Sebuah perusahaan manufaktur memiliki data bulanan sebagai berikut: sewa gedung Rp20.000.000, gaji staf admin Rp15.000.000, listrik Rp8.000.000, asuransi Rp3.000.000, dan perlengkapan kantor Rp4.000.000. Total overhead adalah Rp50.000.000. Jika penjualan bulan tersebut mencapai Rp200.000.000, maka overhead ratio adalah 25 persen.

Dampak Biaya Overhead terhadap Profitabilitas Usaha

Biaya Overhead memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Overhead yang terlalu tinggi akan menggerus margin keuntungan, sementara penekanan berlebihan dapat mengganggu operasional.

Dampak ekonomis BiayaOverhead terhadap bisnis:

Pengaruh terhadap Margin Laba Kotor terjadi ketika overhead dialokasikan ke harga pokok produksi. Semakin besar porsi overhead, semakin kecil margin yang tersisa dari selisih harga jual dan biaya produksi.

Pengaruh terhadap Titik Impas sangat signifikan karena fixed overhead harus ditutup terlebih dahulu sebelum perusahaan mulai meraih keuntungan. Overhead tetap yang tinggi menaikkan break-even point sehingga diperlukan volume penjualan lebih besar untuk mencapai profitabilitas.

Pengaruh terhadap Daya Saing Harga muncul ketika perusahaan dengan overhead tinggi terpaksa menetapkan harga jual lebih mahal. Dalam pasar yang kompetitif, hal ini dapat mengurangi pangsa pasar jika pesaing mampu beroperasi dengan overhead lebih efisien.

Pengaruh terhadap Arus Kas terasa terutama dari komponen fixed overhead yang harus dibayarkan secara rutin. Perusahaan dengan overhead tetap tinggi memerlukan cadangan kas yang lebih besar untuk mengantisipasi periode penjualan lambat.

Analisis sensitivitas overhead terhadap profitabilitas menjadi alat penting bagi manajemen untuk simulasi berbagai skenario dan mengambil keputusan strategis.

Strategi Efisiensi dan Pengendalian Biaya Overhead

Pengelolaan BiayaOverhead yang efektif dapat meningkatkan profitabilitas tanpa mengorbankan kualitas operasional. Beberapa strategi berikut terbukti efektif dalam praktik bisnis.

Strategi pengendalian BiayaOverhead:

  1. Audit Berkala terhadap seluruh komponen overhead untuk mengidentifikasi pengeluaran yang tidak lagi relevan atau dapat dioptimalkan
  2. Negosiasi Ulang Kontrak dengan vendor dan penyedia jasa untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif
  3. Adopsi Teknologi yang dapat mengotomatisasi tugas administratif dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja tidak langsung
  4. Implementasi Remote Working untuk mengurangi kebutuhan ruang kantor dan biaya utilitas terkait
  5. Sharing Resources dengan perusahaan lain untuk berbagi biaya fasilitas atau layanan bersama
  6. Efisiensi Energi melalui investasi pada peralatan hemat listrik dan optimalisasi penggunaan
  7. Outsourcing Fungsi Non-Inti yang dapat dilakukan lebih efisien oleh pihak eksternal
  8. Pemanfaatan Cloud Computing untuk mengurangi biaya infrastruktur IT dan pemeliharaannya

Penting untuk diingat bahwa penghematan overhead tidak boleh mengorbankan kapabilitas inti perusahaan. Pengurangan biaya yang terlalu agresif dapat berdampak negatif pada produktivitas, moral karyawan, dan kualitas layanan.

Alokasi BiayaOverhead ke Produk dan Departemen

Dalam akuntansi biaya, Biaya Overhead perlu dialokasikan ke produk atau departemen untuk mengetahui biaya penuh dari setiap unit yang dihasilkan. Proses alokasi ini memerlukan pemilihan basis yang tepat.

Metode alokasi BiayaOverhead yang umum digunakan:

Berdasarkan Jam Kerja Langsung mengalokasikan overhead proporsional dengan waktu yang dihabiskan tenaga kerja langsung untuk setiap produk. Metode ini cocok untuk industri padat karya.

Rumus: Overhead per Jam = Total Overhead / Total Jam Kerja Langsung

Berdasarkan Jam Mesin lebih tepat untuk industri padat modal dimana mesin berperan dominan dalam proses produksi.

Rumus: Overhead per Jam Mesin = Total Overhead / Total Jam Mesin

Berdasarkan Luas Area digunakan untuk mengalokasikan overhead seperti sewa dan utilitas berdasarkan proporsi ruang yang digunakan setiap departemen.

Rumus: Overhead Departemen = (Luas Area Departemen / Total Luas) x Total Overhead

Activity Based Costing (ABC) merupakan pendekatan lebih canggih yang mengalokasikan overhead berdasarkan aktivitas yang memicu timbulnya biaya. Metode ini memberikan alokasi yang lebih akurat untuk perusahaan dengan produk beragam.

Pemilihan metode alokasi yang tepat akan menghasilkan informasi biaya produk yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan harga dan profitabilitas.

Biaya Overhead dalam Konteks Industri yang Berbeda

Komposisi dan proporsi BiayaOverhead sangat bervariasi antar industri sesuai dengan karakteristik operasional masing-masing sektor.

Profil Biaya Overhead menurut sektor industri:

Industri Manufaktur memiliki overhead yang didominasi oleh depresiasi mesin, biaya pemeliharaan pabrik, gaji supervisor produksi, dan biaya quality control. Rasio overhead terhadap penjualan umumnya berkisar 20 hingga 35 persen.

Industri Ritel menghadapi overhead berupa sewa toko, gaji kasir dan pramuniaga, sistem point of sale, serta biaya keamanan. Target rasio overhead biasanya 15 hingga 30 persen dari pendapatan.

Industri Jasa Profesional seperti konsultan dan firma hukum memiliki overhead yang terfokus pada sewa kantor, gaji staf pendukung, dan pengembangan profesional. Rasio overhead relatif rendah di kisaran 10 hingga 25 persen.

Industri Teknologi terutama perusahaan software, memiliki overhead berupa biaya infrastruktur IT, lisensi software, dan gaji tim support. Overhead cenderung lebih tinggi di fase awal kemudian menurun seiring skala ekonomi tercapai.

Industri Pertambangan dan Energi menghadapi overhead signifikan untuk kepatuhan regulasi, rehabilitasi lingkungan, dan keselamatan kerja. Biaya ini dapat mencapai proporsi substansial dari total pengeluaran.

Benchmarking overhead ratio terhadap standar industri membantu perusahaan mengevaluasi efisiensi relatif dan mengidentifikasi area perbaikan.

Kesalahan Umum dalam Pengelolaan BiayaOverhead

Beberapa kesalahan dalam mengelola Biaya Overhead dapat berdampak serius terhadap akurasi laporan keuangan dan keputusan bisnis.

Kesalahan yang perlu dihindari:

  1. Mencampur Biaya Langsung dan Overhead sehingga mengaburkan struktur biaya sebenarnya dan menyebabkan kesalahan penetapan harga
  2. Mengabaikan Overhead Tersembunyi seperti biaya kesempatan, biaya transaksi, dan biaya koordinasi yang tidak tercatat eksplisit
  3. Alokasi yang Tidak Proporsional menggunakan basis alokasi yang tidak mencerminkan konsumsi sumber daya sebenarnya
  4. Tidak Memperbarui Tarif Overhead sehingga menggunakan angka historis yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini
  5. Penghematan yang Merusak Operasional dengan memangkas overhead secara membabi buta tanpa mempertimbangkan dampaknya
  6. Mengabaikan Overhead Variabel dan menganggap semua overhead bersifat tetap sehingga proyeksi biaya menjadi tidak akurat

Penerapan sistem akuntansi yang baik dan review berkala dapat meminimalkan kesalahan-kesalahan tersebut.

Kesimpulan

Biaya Overhead merupakan komponen pengeluaran tidak langsung yang tidak berkaitan dengan produksi namun esensial untuk kelangsungan operasional bisnis, mencakup sewa, gaji staf administrasi, utilitas, asuransi, depresiasi, dan berbagai biaya pendukung lainnya. Dalam perspektif ekonomi, pemahaman mendalam tentang overhead cost menjadi kunci untuk penentuan harga pokok produksi yang akurat, penyusunan anggaran yang realistis, analisis profitabilitas yang komprehensif, serta pengambilan keputusan investasi yang tepat. BiayaOverhead terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan perilakunya yaitu fixed overhead yang konstan, variable overhead yang berfluktuasi mengikuti aktivitas, dan semi variable overhead yang menggabungkan keduanya. Perhitungan overhead ratio dengan membandingkan total overhead terhadap penjualan memberikan indikator efisiensi dimana standar ideal bervariasi menurut industri, mulai dari 10 hingga 35 persen. Strategi pengendalian seperti audit berkala, negosiasi kontrak, adopsi teknologi, dan efisiensi energi dapat menurunkan beban overhead tanpa mengorbankan kapabilitas operasional, sehingga meningkatkan margin laba dan daya saing perusahaan di pasar.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik:  Ekonomi

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Biaya Logistik Indonesia: Tantangan Ekonomi FATCAI99 dan Upaya Efisiensi

Author