Cross Border Payment: Pembayaran Lintas Negara Cepat
JAKARTA, turkeconom.com – Cross border payment menjadi tulang punggung ekonomi global di era perdagangan internasional yang semakin terhubung. Sistem pembayaran lintas negara ini memfasilitasi perpindahan dana antar negara untuk berbagai keperluan mulai dari perdagangan hingga investasi. Menurut data IMF tahun 2024, nilai pasar pembayaran lintas negara global mencapai hampir satu kuadriliun dolar Amerika.
Pengertian Cross Border Payment dalam Konteks Ekonomi

Pembayaran lintas negara merupakan proses transfer uang dari satu negara ke negara lain yang melibatkan berbagai pihak dan sistem keuangan. Transaksi ini biasanya dilakukan oleh individu, perusahaan, maupun institusi keuangan untuk memenuhi kebutuhan bisnis internasional. Proses tersebut melibatkan pengiriman dana dari rekening di satu negara menuju rekening di negara tujuan menggunakan berbagai metode yang tersedia.
Sistem ini menjadi elemen penting dalam perdagangan global karena memungkinkan pelaku usaha mengakses pasar internasional dengan lebih mudah. Tanpa cross border payment yang efisien, aktivitas ekspor impor akan terhambat dan pertumbuhan ekonomi global akan melambat secara signifikan.
Nilai Pasar Global yang Terus Berkembang
Pasar pembayaran lintas negara menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Fortune Business Insights, nilai pasar global mencapai 347,7 miliar dolar pada tahun 2024. Proyeksi menunjukkan angka tersebut akan meningkat menjadi 620,15 miliar dolar pada tahun 2032 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 7,6 persen.
Segmen B2B atau bisnis ke bisnis mendominasi pasar dengan nilai transaksi mencapai 39 triliun dolar pada tahun 2023. Angka tersebut diprediksi akan melonjak hingga 56 triliun dolar pada tahun 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor penting meliputi:
- Peningkatan perdagangan internasional dan rantai pasok global
- Pertumbuhan pesat sektor e-commerce lintas negara
- Permintaan akan transaksi yang lebih cepat dan murah
- Perkembangan teknologi finansial atau fintech
- Ekspansi bisnis UMKM ke pasar internasional
Kawasan Asia Pasifik memimpin pasar global dengan pangsa mencapai 45,96 persen pada tahun 2024. Hal ini mencerminkan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di wilayah tersebut.
Metode Cross Border Payment yang Banyak Digunakan
Terdapat beragam metode yang dapat digunakan untuk melakukan pembayaran lintas negara sesuai kebutuhan masing-masing pengguna. Transfer bank melalui jaringan SWIFT menjadi metode tradisional yang paling umum digunakan untuk transaksi bernilai besar. Jaringan SWIFT menghubungkan lebih dari 11.000 institusi keuangan di lebih dari 200 negara.
Kartu kredit dan debit internasional melalui jaringan Visa serta Mastercard sangat populer untuk transaksi ritel. Metode ini cocok untuk belanja online, perjalanan wisata, dan pembayaran berlangganan layanan internasional. Kemudahan penggunaan menjadi keunggulan utama dari metode pembayaran ini.
Layanan pembayaran digital seperti PayPal, Wise, dan Payoneer menawarkan alternatif yang lebih cepat dengan biaya kompetitif. Platform fintech ini memanfaatkan teknologi untuk menyederhanakan proses transfer lintas negara. Dompet digital dan e-wallet juga semakin populer dengan proyeksi mencapai 39 persen dari total transaksi di toko fisik.
Peran SWIFT dalam Sistem Pembayaran Global
Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau SWIFT memegang peranan krusial dalam cross border payment selama beberapa dekade. Jaringan pesan keuangan ini memproses lebih dari 10 triliun dolar setiap hari dengan 60 juta transaksi ke lebih dari 200 negara. Tingkat keberhasilan pemrosesan langsung mencapai 99,3 persen.
SWIFT sendiri bukanlah sistem pembayaran melainkan jaringan pesan yang menginstruksikan bank untuk memindahkan uang. Sistem ini mengandalkan correspondent banking yang melibatkan beberapa bank perantara dalam satu transaksi. Meskipun sudah mapan, SWIFT menghadapi tantangan berupa waktu pemrosesan yang lama dan biaya tinggi.
Merespons perkembangan teknologi blockchain, SWIFT mengumumkan rencana pengembangan digital ledger berbasis blockchain pada September 2025. Lebih dari 30 institusi keuangan global termasuk JP Morgan Chase, HSBC, Deutsche Bank, dan Bank of America terlibat dalam inisiatif tersebut. Tujuannya adalah mewujudkan pembayaran lintas negara secara real time selama 24 jam penuh.
Tantangan Cross Border Payment bagi Pelaku Ekonomi
Meskipun sangat penting bagi ekonomi global, sistem cross border payment masih menghadapi berbagai tantangan signifikan. Biaya transaksi yang tinggi menjadi keluhan utama dengan sekitar 68 persen pemilik bisnis melaporkan membayar biaya yang tidak perlu. Pembayaran lintas negara yang gagal merugikan pedagang Amerika Serikat setidaknya 3,8 miliar dolar per tahun.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi sistem pembayaran lintas negara meliputi:
- Waktu pemrosesan yang lama mencapai 3 hingga 5 hari kerja
- Biaya transfer dan konversi mata uang yang mahal
- Kurangnya transparansi dalam proses transaksi
- Kompleksitas regulasi di berbagai yurisdiksi berbeda
- Risiko keamanan siber dan penipuan yang meningkat
- Fluktuasi nilai tukar mata uang asing
- Kebutuhan prefunding rekening nostro di berbagai negara
Biaya kejahatan siber global diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar per tahun. Hal ini mendorong kebutuhan akan sistem keamanan yang lebih kuat dalam infrastruktur pembayaran internasional.
Inovasi Blockchain untuk Cross Border Payment
Teknologi blockchain muncul sebagai solusi potensial untuk mengatasi tantangan dalam pembayaran lintas negara. Sistem berbasis blockchain menawarkan transaksi yang lebih cepat, murah, dan transparan dibandingkan metode tradisional. Stablecoin sebagai mata uang digital yang nilainya dipatok terhadap mata uang fiat semakin diadopsi untuk pembayaran internasional.
Pembayaran menggunakan stablecoin biasanya memakan biaya 0,5 hingga 2 persen dibandingkan 2 hingga 7 persen untuk transfer bank tradisional. Waktu penyelesaian hanya beberapa menit dan beroperasi selama 24 jam setiap hari sepanjang tahun. Platform seperti Ripple, Circle, dan Stellar menawarkan infrastruktur cross border payment berbasis blockchain.
Perusahaan besar seperti Visa telah meluncurkan Tokenized Asset Platform dan bermitra dengan penyedia stablecoin untuk mempercepat pembayaran lintas negara. Bank of America juga mengumumkan rencana menerbitkan stablecoin sendiri. Tren ini menunjukkan bahwa stablecoin bergerak dari metode pembayaran alternatif menjadi infrastruktur keuangan inti.
Perkembangan QRIS Lintas Negara di Indonesia
Indonesia melalui Bank Indonesia aktif mengembangkan sistem pembayaran lintas negara berbasis QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard. Per Agustus 2025, layanan QRIS Cross Border telah tersedia di sembilan negara meliputi Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, dan Korea Selatan.
Peluncuran QRIS di Jepang pada 17 Agustus 2025 menandai debut sistem pembayaran Indonesia di luar kawasan ASEAN. China juga memasuki fase sandbox atau uji coba terbatas untuk interkoneksi dengan QRIS. Kerja sama dengan India, Korea Selatan, dan Arab Saudi masih dalam tahap pembahasan teknis.
Manfaat QRIS lintas negara bagi ekonomi Indonesia sangat signifikan. Wisatawan tidak perlu menukar uang tunai saat bepergian ke negara mitra. UMKM dapat menerima pembayaran dari pelanggan asing tanpa membuka rekening internasional. Biaya transaksi lebih murah dibandingkan menggunakan transfer bank konvensional.
Dampak Ekonomi dari Pembayaran Lintas Negara
Sistem cross border payment yang efisien memberikan dampak positif yang luas terhadap perekonomian global maupun domestik. Kemudahan transaksi mendorong pertumbuhan perdagangan internasional dan investasi asing langsung. Pelaku usaha dapat mengakses pasar regional dengan lebih mudah tanpa hambatan pembayaran.
Statista memprediksi pasar pembayaran lintas negara B2B akan meningkat sekitar 43 persen dengan e-commerce B2B menjadi pendorong utama. Peningkatan efisiensi UMKM terjadi karena penjual lokal bisa menerima pembayaran lintas negara tanpa membuka rekening internasional. Arus perdagangan regional meningkat karena transaksi menjadi lebih cepat.
Nilai transaksi penggunaan mata uang lokal untuk bertransaksi di luar negeri naik 39 persen menjadi 3,8 miliar dolar hingga Mei 2024 menurut Bank Indonesia. Angka tersebut mencerminkan percepatan adopsi transaksi lintas batas tanpa bergantung pada valuta asing. Inklusi finansial juga meningkat karena akses pembayaran digital lebih mudah bahkan untuk pelaku usaha kecil.
Tren Masa Depan Cross Border Payment Internasional
Beberapa tren penting akan membentuk masa depan cross border payment dalam beberapa tahun ke depan. Sebanyak 92 persen bisnis mengantisipasi akan berinvestasi dalam solusi pembayaran real time selama 24 hingga 36 bulan mendatang. Lebih dari 70 negara telah mengadopsi sistem pembayaran real time yang meningkatkan kepuasan pelanggan.
Interoperabilitas antar sistem pembayaran domestik menyediakan alternatif untuk memproses pembayaran lintas negara. Contoh menonjol termasuk internasionalisasi Pix di Amerika Latin dan ekspansi NPCI India ke Timur Tengah serta Asia Tenggara. Standar ISO 20022 semakin diadopsi untuk harmonisasi pesan keuangan global.
Kecerdasan buatan dan machine learning membantu meningkatkan produktivitas dengan mengurangi false positive dan beban kerja manual. Teknologi ini juga memperbaiki tingkat pemrosesan langsung dalam siklus pembayaran. Digitalisasi ekonomi dan keuangan telah menjadi inisiatif global dengan seluruh anggota G20 sepakat memprioritaskan pembayaran lintas batas hingga tahun 2027.
Kesimpulan
Cross border payment merupakan infrastruktur vital yang menopang perdagangan dan investasi internasional dengan nilai pasar mencapai hampir satu kuadriliun dolar. Tantangan seperti biaya tinggi dan waktu pemrosesan lama mendorong inovasi teknologi blockchain dan stablecoin sebagai solusi alternatif. Indonesia aktif berpartisipasi melalui pengembangan QRIS lintas negara yang kini tersedia di sembilan negara Asia. Masa depan pembayaran internasional akan ditandai dengan transaksi yang lebih cepat, murah, transparan, dan inklusif seiring adopsi teknologi digital yang semakin masif.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Ekonomi
Baca Artikel Populer Lainnya Seperti: Rasio Solvabilitas: Indikator Penting Kesehatan Keuangan Bisnis Situstoto










