Degrowth Economy

Degrowth Economy: Saat Ekonomi Belajar Melambat dengan Sadar

turkeconom.com  —   Selama puluhan tahun, kita hidup dalam satu keyakinan besar: ekonomi harus selalu tumbuh. Angka Produk Domestik Bruto naik dianggap sebagai tanda keberhasilan, sementara perlambatan sering dicap sebagai ancaman. Namun, di tengah krisis iklim, ketimpangan sosial, dan tekanan terhadap sumber daya alam, muncul satu pertanyaan besar: apakah pertumbuhan tanpa batas benar-benar masuk akal? Di sinilah Degrowth Economy masuk ke panggung diskusi.

Konsep ini tidak bicara soal kemunduran ekonomi secara kacau, melainkan tentang memilih untuk melambat dengan sadar. Degrowth mengajak kita meninjau ulang cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan mendefinisikan kesejahteraan. Bukan sekadar mengejar angka, tetapi memperhatikan kualitas hidup manusia dan kesehatan bumi.

Dalam konteks ini, degrowth bukan berarti semua aktivitas ekonomi dihentikan. Justru sebaliknya, aktivitas ekonomi tetap berjalan, tetapi diarahkan pada hal-hal yang benar-benar penting. Pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, dan lingkungan menjadi pusat perhatian, bukan sekadar laba dan ekspansi.

Akar Pemikiran Degrowth Economy

Degrowth Economy bukan ide yang muncul tiba-tiba. Akar pemikirannya sudah ada sejak tahun 1970-an, ketika para ekonom dan ilmuwan lingkungan mulai menyadari keterbatasan planet ini. Tokoh seperti Nicholas Georgescu-Roegen menyoroti bahwa ekonomi modern terlalu mengabaikan hukum alam, terutama terkait energi dan sumber daya.

Konsep ini kemudian berkembang menjadi kritik terhadap kapitalisme modern yang sangat bergantung pada konsumsi massal. Dalam sistem tersebut, kebutuhan sering kali diciptakan secara artifisial agar roda ekonomi terus berputar. Degrowth menantang pola ini dengan mengajak masyarakat bertanya: apakah kita benar-benar membutuhkan semua yang kita beli?

Degrowth juga erat kaitannya dengan keadilan sosial. Pertumbuhan ekonomi global selama ini terbukti tidak selalu dinikmati secara merata. Ada kelompok yang hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian lain kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan menekan konsumsi berlebihan di satu sisi, degrowth membuka ruang distribusi yang lebih adil di sisi lain.

Pendekatan ini juga banyak dibahas dalam forum akademik dan kebijakan publik, terutama di Eropa. Beberapa negara mulai mengeksplorasi indikator kesejahteraan alternatif selain PDB, seperti indeks kebahagiaan dan kualitas hidup.

Degrowth dan Lingkungan yang Mulai Lelah

Salah satu alasan utama munculnya Degrowth Economy adalah kondisi lingkungan yang semakin tertekan. Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran laut, dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi sinyal bahwa model ekonomi saat ini terlalu memaksa bumi bekerja tanpa henti.

Degrowth memandang bahwa solusi lingkungan tidak cukup hanya dengan teknologi hijau atau efisiensi energi. Selama tingkat konsumsi terus meningkat, dampak ekologis akan tetap besar. Oleh karena itu, degrowth mendorong pengurangan produksi dan konsumsi yang tidak perlu, terutama di negara maju.

Degrowth Economy

Dalam praktiknya, ini bisa berarti memperpanjang usia pakai produk, mengurangi limbah, serta mendukung ekonomi lokal. Alih-alih membeli barang baru, masyarakat diajak untuk memperbaiki, berbagi, atau menggunakan kembali apa yang sudah ada. Konsep ini sering disebut sebagai ekonomi sirkular, yang sejalan dengan semangat degrowth.

Pendekatan ini memang menantang kebiasaan lama, tetapi menawarkan harapan baru. Dengan tekanan yang lebih rendah terhadap alam, generasi mendatang memiliki peluang lebih besar untuk hidup di lingkungan yang sehat dan stabil.

Dampak Sosial dan Gaya Hidup Masyarakat

Degrowth Economy tidak hanya soal angka dan kebijakan, tetapi juga soal gaya hidup. Dalam masyarakat degrowth, kesuksesan tidak lagi diukur dari seberapa banyak kita memiliki, melainkan seberapa baik kita hidup. Waktu luang, kesehatan mental, dan hubungan sosial mendapat porsi yang lebih besar.

Jam kerja yang lebih pendek menjadi salah satu gagasan populer dalam diskusi degrowth. Dengan bekerja lebih sedikit, orang memiliki waktu untuk keluarga, komunitas, dan aktivitas bermakna lainnya. Ini juga membuka peluang distribusi kerja yang lebih adil, mengurangi pengangguran, dan menekan stres kolektif.

Degrowth juga mendorong penguatan komunitas lokal. Pasar lokal, koperasi, dan usaha kecil menjadi tulang punggung ekonomi. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi lebih dekat, transparan, dan saling menguntungkan.

Tentu saja, transisi menuju degrowth bukan tanpa tantangan. Perubahan pola pikir dari konsumsi ke keberlanjutan membutuhkan waktu. Namun, semakin banyak orang mulai menyadari bahwa hidup sederhana tidak selalu berarti hidup kekurangan.

Tantangan dan Masa Depan Degrowth Economy

Meski menawarkan banyak manfaat, Degrowth Economy juga menuai kritik. Sebagian pihak khawatir bahwa perlambatan ekonomi dapat berdampak pada lapangan kerja dan pendapatan negara. Pertanyaan tentang bagaimana membiayai layanan publik dalam ekonomi yang tidak tumbuh juga sering muncul.

Para pendukung degrowth menanggapi kritik ini dengan menekankan pentingnya transformasi sistemik. Kebijakan pajak progresif, jaminan sosial yang kuat, dan investasi pada sektor-sektor esensial menjadi kunci. Fokus ekonomi dialihkan dari kuantitas ke kualitas.

Di masa depan, degrowth mungkin tidak diterapkan secara seragam di semua negara. Negara berkembang, misalnya, masih membutuhkan pertumbuhan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. Degrowth lebih relevan sebagai kritik terhadap konsumsi berlebihan di negara kaya dan sebagai ajakan untuk berbagi ruang ekologis secara global.

Diskusi tentang degrowth semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran akan batas planet. Entah diterapkan sepenuhnya atau menjadi inspirasi kebijakan, degrowth telah membuka ruang dialog baru tentang arah ekonomi dunia.

Kesimpulan

Degrowth Economy mengajak kita untuk berdamai dengan kenyataan bahwa bumi memiliki batas. Alih-alih terus memacu pertumbuhan tanpa henti, pendekatan ini menawarkan jalan yang lebih tenang, adil, dan berkelanjutan. Fokusnya bukan pada seberapa cepat ekonomi berlari, tetapi pada ke mana arah langkah kita.

Dalam dunia yang semakin kompleks, degrowth hadir sebagai pengingat bahwa kesejahteraan sejati tidak selalu sejalan dengan konsumsi berlebihan. Dengan mengatur ulang prioritas, ekonomi bisa menjadi alat untuk hidup yang lebih baik, bukan sumber tekanan baru. Degrowth bukan akhir dari kemajuan, melainkan upaya mendefinisikan ulang makna kemajuan itu sendiri.

perekonomian nasional. Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang   ekonomi

Baca juga artikel menarik lainnya Money Multiplier: sebagai Penggerak Dinamika Peredaran Hometogel

Author